-->

Monday, March 31, 2008

April fool = hari boleh menipu orang lain
Assalamu'alaikum wr. wb.

April fool

Sekitar seribu tahun yang lalu saat Spanyol di bawah kekuasaan Muslim begitu kuat sehingga tidak mampu dihancurkan. Kaum Kristian di barat berharap untuk melenyapkan Islam dari seluruh pelusuk dunia dan mereka berjaya melakukannya sedikit banyak.

Namun ketika mereka cuba untuk membersihkan Islam dari kekuasaan Sepanyol, mereka gagal. Telah beberapa kali dicuba tapi tetap tidak berjaya. Lalu mereka menghantar perisik ke Spanyol untuk mempelajari Islam dan menemukan bahwa kekuatan yang dimiliki kaum Muslim adalah taqwa. Muslim Spanyol bukan hanya beragama Islam namun mempraktikkan kehidupan secara Islam. Mereka tidak hanya membaca Al-Qur'an tapi juga berakhlak berlandaskan Al-Qur'an. Mereka selalu berkata tidak untuk muzik, untuk bir dan juga segala hal yang diharamkan dalam Islam. Jika mereka membaca tentang hijab di Al-Qur'an, mereka mengamalkannya, tidak seperti kebanyakan kita. Karena itu, marilah kita berpegang tangan erat dan berjanji untuk mengamalkannya dengan betul. Begitupun kaum Kristian mengetahui kekuatan umat Islam, mereka mencari strategi untuk menghancurkannya.

Mulalah dengan mengimport alkohol dan cigarette secara mendadak kepada mereka. Taktik ini cukup berhasil dan melemahkan keyakinan umat Islam terutama kaum mudanya. Hasil dari usaha ini,maka jatuhnya Spanyol dari kekuasaan umat Islam dan mengakhiri penguasaan umat Islam seluruhnya terhadap Spanyol selama lapan ratus tahun. Daerah terakhir yang jatuh kepada kekuasaan kaum Kristen adalah Grenada (Ghornata) pada tanggal 1 April (tak pasti).

Sejak dari itu, mereka merayakan hari kejatuhan umat Islam sebagai Hari Kebodohan umat Islam (april fool) dimana pada tersebut umat Islam dipermalukan oleh kaum Kristen yang sekarang ini dirayakan sebagai April Fool's Day. Lalu kenapa kita mesti merayakan hari kebodohan kita sendiri? Hari kejatuhan kita? Jawapannya adalah kelalaian kita, bukan? dan kita ini tidak mahu mengambil tahu dan memikul maruah agama kita, bukan begitu?

Tidak satupun dari kita mengetahui tentang ini. Maka bermula dari sekarang, mari kita berjanji untuk tidak merayakan hari April fool dan mulai mengamalkan Islam secara benar dan kaffah tanpa hilang keyakinan seperti yang pernah dilakukan oleh umat Islam Spanyol.

Pada peristiwa tersebut, Muslimin Sepanyol dijanjikan akan diberi kebebasan untuk meninggalkan tanah Spanyol secara damai, dengan catatan tidak boleh membawa senjata ke pelabuhan. Ternyata, setelah mereka berkumpul di sana, mereka dibantai secara keji tanpa ada kesempatan membela diri. Itulah mengapa tanggal 1 April kaum Kristian menyambut April Fool sebagai hari kebodohan umat Islam, dengan kata lain, "Bodoh, senang sahaja ditipu".



Pada peristiwa tersebut, Muslimin Sepanyol dijanjikan akan diberi kebebasan untuk meninggalkan tanah Spanyol secara damai, dengan catatan tidak boleh membawa senjata ke pelabuhan. Ternyata, setelah mereka berkumpul di sana, mereka dibantai secara keji tanpa ada kesempatan membela diri. Itulah mengapa tanggal 1 April kaum Kristian menyambut April Fool sebagai hari kebodohan umat Islam, dengan kata lain, "Bodoh, senang sahaja ditipu".



April fool = hari dimana mereka boleh menipu orang lain sebagai bahan gurauan.

"Ya Allah, jadikanlah syahid dan syahidah sebagai gelar sarjana kami yang tertinggi".

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Sumber : http://www.alirsyad-alislamy.or.id/i-harian48.htm
susunatur : yusri zahir
38 Tahun Pembakaran al Aqsha






Tanggal 21 Ogos merupakan antara hari yang paling menggemparkan dan tragis untuk umat Islam sejak 38 tahun silam. Pada tanggal itu ketika tahun 1969, seorang ekstrimis Zionis bernama Michael Rohan bersama talibarutnya membakar sebahagian bangunan masjid al Aqsa. Meskipun pembakaran itu dilakukan oleh sekelompok ekstrimis Yahudi Zionis, tetapi banyak bukti menunjukkan bahwa aksi brutal itu berlangsung secara dirancang di bawah kawalan Rezim Zionis Israel.

Sebenarnya Masjid al Aqsa menjadi icon anarkisme kaum Zionis bukan hanya karena tragedi pembakaran pada tahun 1969 tersebut padahal dua tahun sebelumnya, iaitu pada tahun 1967, kaum Zionis Israel merebut dan menguasai pintu gerbang timur masjid al Aqsa. Penguasaan atas gerbang bernama Bab al-Maghariba oleh kaum Zionis itu tidak lain dan tidak bukan semata2 adalah untuk meningkatkan frekuensi gangguan mereka terhadap umat Islam.

Di tahun 1967 pula, tepatnya tanggal 15 Ogos, seorang ekstrimis Zionis bernama Solomo Gorin mengacau-bilaukan masjid al Aqsha sambil melontarkan ancaman akan menghancurkan masjid ini dan kemudian kemudian digantikan dengan sinagog, tempat peribadatan umat Yahudi.

Tiga tahun kemudian, yaitu tahun 1970, seorang warga Zionis bersenjata lengkap juga menyerang masjid al Aqsha dan memanah peluru kepada para jemaah shalat. Serangan yang terjadi di bulan Oktober mencatatkan puluhan umat Islam yang terkorban.

Tragedi seperti itu terjadi juga pada 11 April 1982. Ketika itu seorang tentara Israel bernama Alan Jodman tiba-tiba masuk ke komplek masjid al Aqsha kemudian melepaskan pelurunya secara membabi buta. Puluhan Muslim Palestin gugur dan lebih dari 60 orang lainnya cedera akibat amuk tentera Zionis tersebut.

Sampai sekarang, masjid al Aqsa masih dibayangi ancaman kaum Zionis.

Israel Ingin Membahagikan kepada 2 iaitu Muslim dan Yahudi
Ketua Harakah Islamiyah di Palestin 1948, Syaikh Raid Shalah meminta respon positif atas program “Kas Islam Arab Internasional” (projek pengumpulan dana) untuk menyelamatkan al Aqsa dan kota al Quds. Dia menegaskan, rejim Israel sekarang mampu mewujudkan dua tujuan strategi;

pertama, menjadikan kota al Quds sebagai kota yahudi
dan kedua, membahagi masjid al Aqsa untuk kaum Muslimin dan Yahudi.

Untuk itu Israel mewujudkan tentera dan gerakan di bawah masjid suci Islam tersebut.

Raid menyebut fasa yang dialami oleh masjid al Aqsha sebagai fasa yang paling membahayakan bagi keadaan masjid suci ini sepanjang sejarahnya. Fasa ini jauh lebih berbahaya dari perang salib.

Penjajah-penjajah Israel berusaha menjadikan rencana pembahagian masjid al Aqsa seakan-akan sebagai sebuah realiti meskipun tanpa pengumuman rasmi. Misalnya, Israel berusaha melarang umat Islam melaksanakan solat di kawasan2 tertentu di sekitar masjid al Aqsa. Personal intelijen Israel menyebut, dalam operasi penyelidikan di al Quds terhadap para tahanan bahawasanya Israel benar-benar melakukan rencana pembahagian masjid tersebut.

Shalah mengingatkan akibat buruk mendedahkan masalah al Quds yang hanya bersandarkan dari sisi kemanusiaan sementara pada masa yang sama Israel mendedahkannya dari titik tolak agama, sejarah, politik dan strategi.

Para akedemik dan penyelidik khas urusan al Quds mengatakan, bahaya yang mengancam al Quds dan al Aqsa sudah menjadi sebuah hakikat yang tidak boleh dielakkan. Terutama menjelang kelangsungan operasi rencana pembangunan tembok rasial dan penetapan yahudi yang mengepung kota.

Berjuang dari Generasi ke Generasi
Dalam wawancara khusus dengan koresponden infopalestina, Isnin (20/8), Anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Hamas Izet Rasyq menegaskan bahwa masjid al Aqsa adalah garis merah yang tidak boleh disentuh oleh siapapun. Hal tersebut ditegaskan Rasyq dalam rangka memperingati 38 tahun pembakaran masjid oleh seorang fundamentalis Yahudi yang berasal dari Australia, pada Agustus 1969 lalu. Dia menyatakan, pembakaran yang dilakukan oleh kelompok radikal Israel dengan dokongan pemerintahnya, mengakibatkan masjid Umar dan mimbar Shalahuddin yang terletak di bagian tenggara konpleks masjid al Aqsha tergugat.

Rasyq menambahkan, rakyat Palestin bersedia mengorbankan apa saja yang mereka miliki untuk mempertahankan al Aqsa. Penodaan terhadap al Aqsha akan dilihat sangat berbahaya. Karena masjid al Aqsha adalah kiblat pertama ummat Islam dan al Haram ketiga setelah Makkah dan Madinah. Al Aqsha berkait-rapat dengan aqidah setiap muslim dan disebutkan dalam al Qur’an. Rasyq menegaskan kaum muslimin dimana pun tidak akan berpeluk tubuh jika perancangan Israel menghancurkan masjid al Aqsha berlaku. Karena penodaan terhadap al Aqsa sama dengan menodai aqidah ummat dan agamanya.

Ancaman Israel terhadap masjid a -Aqsha dan tempat-tempat suci ummat, tidak akan pernah berhenti walau sehari, sejak mereka menjajah wilayah Palestin. Selama mana al Quds masih dijajah Israel maka masjid al Aqsha masih dalam bahaya.

Pemerintah tertinggi Hamas ini mengatakan, "Kami memperingati peristiwa yang memilukan ini dengan akal yang terbuka dan fikiran waras. Kami menyeru saudara kami dari Fatah bahwa masjid al Aqsha dan al Quds merupakan amanah besar yang terpikul di bahu kita. Kita semua wajib memadamkan api fitnah yang dinyalakan oleh Israel. Mari bersatu bersama-sama faksi lain dalam memperjuangkan kemerdekaan wilayah Palestin dan tempat-tempat sucinya dari tangan perompok zionis."

Sementara itu PM Pemerintah Persatuan Nasional Palestin di Sempadan Gaza, Ismail Haniyah berjanji pihaknya tetap memberi komitmen dan membela setiap jengkal tanah kota al Quds secara khusus dan seluruh tanah Palestin secara umum. Untuk itu, pihaknya menolak sebarang perundingan dengan penjajah Zionis Israel yang menuntut pembahagian kota suci al Quds atau mengkotak-kotak dan melepaskannya.



Pemerintah tertinggi Hamas ini mengatakan, "Kami memperingati peristiwa yang memilukan ini dengan akal yang terbuka dan fikiran waras. Kami menyeru saudara kami dari Fatah bahwa masjid al Aqsha dan al Quds merupakan amanah besar yang terpikul di bahu kita. Kita semua wajib memadamkan api fitnah yang dinyalakan oleh Israel. Mari bersatu bersama-sama faksi lain dalam memperjuangkan kemerdekaan wilayah Palestin dan tempat-tempat sucinya dari tangan perompok zionis."




Hal terebut disampaikan Haniyah dalam konferensi pertama Yayasan al Quds Internasional dalam memperingati 38 tahun pembakaran masjid al Aqsha.
Haniyah mengatakan, “Kami akan berjuang dari generasi ke generasi demi melindungi masjid al Aqsa dan kota suci al Quds, bahkan kami akan mengembalikannya dengan izin Allah.”


Haniyah menegaskan, pembebasan Sempadan Gaza dari cengkaman penjajah Israel merupakan langkah menuju jalan pembebasan tanah Palestin.

“Kami tidak akan mengabaikan al Quds dan al Aqsa di tengah-tengah pelbagai peristiwa yang terjadi atau di lorong-lorong Gaza,” katanyanya.


Haniyah menambah, “Kami tidak pernah dan tidak akan mewakilkan kepada sesiapapun, dan bila-bila pun, untuk melepaskan hak atas al Quds atau apa-apa yang menjadi hak bangsa Palestin.” Dia melanjutkan, “Tidak, kami tidak akan melepaskan sejengkalpun tanah al Quds atau tanah Palestin. Kami tidak akan mengakui pembahagian atau menyetujui geografi buatan Israel yang disepakati dalam perundingan-perundingan rahsia mahupun terang-terangan.”

Dia tegas menolak pembicaraan apapun tentang posisi al Quds di atas meja perundingan dan kesepakatan atas pertukaran tanah dan pembahagian baik di atas maupun di bawah al Aqsha, juga di tembok Burak, kampung al Maghariba dan kampung Yahudi. Dia mengatakan, “Itu semua adalah pembagian yang dibuat-buat dalam perundingan dan memasuki wilayah hak Arab dan Islam atas al Quds. Kami menolak itu. Karena al Quds telah jelas kedudukan geografinya, telah jelas keIslaman mahupun kearaban sejarah dan rambu-rambunya.


(FUI.or.id/Infopalestina)
(susunatur & edit : Yusri Zahir/semadikasih)







flv player

download vclip pembakaran Masjid Al-Aqsa
Ramalan Isaac Newton Mengenai Dunia Akhir Zaman

Isaac Newton, selaku watak didalam novel Dan Brown "The Da Vinci Code" yang seringkali disebut-sebut sebagai salah seorang tokoh Illuminati Eropah abad pertengahan yang melawan gereja soal graviti bumi dan kedudukannya yang sebenar, realitinya dunia menyedari bahawasanya mereka memiliki sebuah menuskrip rahsia.

Menuskrip ini merupakan ramalan Newton mengenai Dunia Akhir Zaman yang diambil dari berbagi-bagai kitab kuno dan juga Injil Daniel.

Disana, terdapat beberapa surat dan tulisan yang membuktikan bahawa selain daripada fizik dan matematik, Newton juga mendalami ilmu-ilmu keagamaan, simbol dan juga ramalan. Kajian beliau yang terakhir mendekatkan beliau dengan bebrapa kumpulan ilmuwan Eropah Kabalah abad pertengahan yang ketika itu menjadi musuh gereja. Sebuah kumpulan atau gerakan ilmuwan yang paling terkemuka di Eropah ketika itu adalah Illuminati, dengan makna lain " Yang Memberi Cahaya" (Illuminatrix).

Maria Magdalena yang disanjungi oleh kelompok kabbalah pula mempunyai nama lain iaitu Iluminatrix Queen (Ratu Yang memberi Cahaya).

Sebagai seorang pengikut fahaham Heliosentris yang diturunkan oleh Aristarchus, Copernicus, dan kemudian Galilei-Galileo, Isaac Newton juga antara individu yang dimusuhi gereja. Secara diam-diam, Newton melakukan penghitungan matematik terhadap usia dunia dengan sumber-sumber dari berbagai kitab ramalan, sejarah, dan juga Alkitab itu sendiri.

Newton merangkak mencari jawapan bahawasanya kebangkitan Kerajaan Romawi Suci semula memerlukan 1260 tahun setelah runtuh pada tahun 800 M. Hasilnya, Newton menulis, Kerajaan Romawi Suci akan berdiri dan ini petanda bagi Hari Akhir Zaman atau lebih difahami dengan Zaman Kehancuran Dunia, pada tahun 2060.


Berdasarkan kepercayaan kelompok Kabbalah, di Dunia Akhir Zaman, Haikal Sulaiman sudah dibina dan dari sana Sang Musuh Islam (The Christ) akan kembali memimpin orang-orang Yahudi untuk memerangi seluruh manusia yang enggan tunduk pada mereka. Perang ini akan berlangsung dengan hebat di atas bukit Megiddo di kawasan Arab dan sebab itu dinamakan Perang Armageddon.

Menuskrip rahasia Newton (The Secrets Newton) ini sempat dipamerkan pada tahun 1969 di Universiti Ibrani di Yerusalem. Dan setelah itu tidak ada sebarang khabar berita mengenainya.





Riwayat Newton
Sir Isaac Newton, 4 Januari 1643 - 31 March 1727, merupakan seorang ahli fizik, ahli matemaik, ahli astronomi dan juga ahli kimia yang berasal dari Inggeris. Beliau merupakan pengikut aliran heliosentris dan ilmuwan yang sangat berpengaruh sepanjang sejarahnya, bahkan dikatakan sebagai bapa ilmuan fisik moden.

Dengan berbagai hasil karya ilmiah yang dicapainya, Newton menulis sebuah buku Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, di mana pada buku tersebut dideskripsikan mengenai teori graviti dunia secara umum, berdasarkan hukum gerak yang dikajinya, di mana benda akan tertarik ke bawah karena gaya graviti.

Bekerja sama dengan Gottfried Leibniz, Newton mengembangkan teori kalkulus. Newton merupakan orang pertama yang menjelaskan tentang teori gerak dan berperanan penting dalam merumuskan gerakan melingkar dari hukum Kepler, di mana Newton memperluas hukum tersebut dengan beranggapan bahawa suatu orbit gerakan melingkar tidak mungkin selalu berbentuk lingkaran sempurna (seperti elipse, hiperbola dan parabola).

Newton menemui spektrum warna ketika melakukan percubaan dengan melewati cahaya putih pada sebuah prisma, dia juga percaya bahawa cahaya merupakan kumpulan dari partikel-partikel. Newton juga mengembangkan hukum tentang pendinginan yang diperolehi dari teori binomial, dan menemui sebuah prinsip momentum dan angular momentum.

(artikel : Rizki Ridyasmara/eramuslim)
(susunatur & edit : Yusri Zahir/semadikasih)
mengenai saya
nama :
Muhammad Yusri bin Mohd Zahir

Kerjaya :
Mahasiswa , Universiti al-Azhar , Cawangan Kaherah.

Alamat Mesir :
Kedah Student Hostel, Malaysian Student Complex,Toob El-Ramly, Haiyu Ashir, Madinah Nasr, Cairo, Egypt

Alamat Malaysia :
Lot 501, Kampung Padang Kulim, Jalan Serdang, 09000 Kulim, Kedah

Email :
yuszas@yahoo.com

Freelance :
dealer product di axesteam enterprise

Urutan kelahiran :
anak ke 4 daripada 7 orang adik beradik

Negeri kelahiran :
Johor darul ta'zim

Negeri Mastautin :
Kedah darul aman

kelulusan terakhir :
Sijil Tinggi Agama Malaysia

Monday, March 10, 2008

Dunia Islam Tenat!
Dunia Islam Tenat!



DALAM sebuah artikel yang ditulis oleh Subki Latif, menjelaskan bahawa seorang padri - Jerry Fakwell dari Amerika disifatkan begitu biadap sekali apabila si padri tersebut menempelak Nabi Muhammad SAW sebagai pengganas di dalam kenyataannya. Sekurang-kurangnya dengan penyertaan seorang padri dalam kerancakan barat mentohmah dan memburukkan imej Islam dan umatnya sebagai pengganas bukan sahaja takrif keganasan itu diterjemahkan melalui suara orang 'berkot hitam' dalam dunia sepak terajang politik, malah melibatkan mulut institusi gereja yang sewel lagi menyesatkan itu.

Kalau beberapa waktu sebelum ini dunia hanya digemparkan dengan pendominasian media massa antarabangsa yang dikuasai barat dalam menghentam Islam dan umatnya sebagai pengganas dan menganjurkan keganasan, senario hari ini mungkin sedikit berbeza. Semalam hanya kaki politik sahaja yang bersemuka dalam siri penghentaman itu, tetapi hari ini padri sendiri yang turun padang. Mengapa ini semua berlaku?

Sebagai salah seorang umat Islam seharusnya kita menyedari situasi yang berlaku. Sekurang-kurangnya sensitiviti kita terhadap isu-isu seperti ini membuka minda dan ruang untuk umat Islam kenal siapa mereka. Tetapi bukan kenal bahawa mereka adalah pengganas!

Saya tidak begitu tertarik dengan isu ini berbanding isu penulis 'islam' yang menghina agamanya sendiri. Tentu kita semua sedia ma'ruf akan nama-nama seperti Farish Nor, Akbar Ali, Zainah Anwar dan NGOnya Sister In Islam (SII), Astora Jabat dan Malik Imtiaz Sawar (sekadar menyebut beberapa nama) yang begitu 'berani' menulis dan berhujjah menghina Islam dan keperibadian Islam seperti Baginda SAW, para Mufti dan Ulamak. Mereka ini bertopengkan dengan nama dan pertubuhan berlabel Islam untuk menghina Islam itu sendiri.

Sekurang-kurangnya jika Jerry Fakwell melabelkan Islam dan nabinya sebagai pengganas berpadalah bahawa dia hanya seorang paderi. Tetapi sekiranya yang menuduh dan memburukkan Islam itu seorang Islam dan berautoritikan pertubuhan Islam seperti SII adakah ini tidak lebih melampau berbanding paderi itu?

Farish Nor di dalam artikelnya: ["Let Islam Lead The Way With Its Progressive View On Sexuality"] yang termuat di New Straits Time 4 November 2000 antara lain menulis:

"...The fact that the Prophet had several wives and was known to have had sexual relations with 15 women, which included the concubine Rayhana who remained non-Muslim all her life is proof of the humanity of the Prophet."

Terjemahan: "Fakta bahawa Nabi mempunyai beberapa orang isteri dan diketahui telah mengadakan hubungan seks dengan 15 wanita termasuk seorang gundik bernama Rayhana yang tidak Islam sehingga akhir hayatnya adalah bukti mengenai sifat kemanusiaan Nabi"

dan di dalam artikel ["The Myth Surrounding the Islamic State"] NST 1hb Disember 2001:

"... the Prophet himself, in his specific historical context, was a tribal leader, and so the early oath of allegiance given to him were as atribal rather than just a religion leader."

Terjemahan: "... Nabi sendiri dalam konteks sejarahnya adalah seorang pemimpin suku, dan oleh kerana itu ketaatan awal kepada baginda diberi kerana baginda adalah pemimpin suku lebih dari pemimpin agama.." dan beberapa contoh lain lagi (sekadar menyebut beberapa contoh).

Beberapa contoh yang saya kemukakan itu jelas menunjukkan pendirian dan kefahaman Farish tentang apa itu Islam. Apakah seseorang itu benar-benar Islam apabila sanggup melabelkan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang yang bersifat tidak senonoh itu!. Di mana letaknya kedudukan seorang anak apabila sangguh mencela ayahnya sendiri? Inikan pula seorang Nabi! Saya lebih kecewa dan marah akan hal ini. Apa tidaknya seorang manusia yang maksum (tidak melakukan dosa) seperti para nabi sentiasa diberikan petunjukkan dalam setiap tindakannya bukan bahan cela manusia seperti Farish. Nabi tidak bercakap berdasarkan hawa nafsu, segala yang dituturkan adalah wahyu. Apa lagi perbuatannya mencerminkan syariat!

Akbar Ali pula menulis artikel: "Now The Mufti Blame Hindi Films", di dalam The Sun, 21 Februari 2001:

"Perhaps the turbans of the mufti are too tight and therefore not enough oxygen is getting into their brains. They are not thinking straight."

Terjemahan: "Mungkin serban mufti-mufti terlalu ketat dan sebab itu tidak cukup oksigen masuk ke dalam otak mereka. Mereka tidak berfikiran waras."

Apakah autoriti Akbar Ali untuk mempertikai kedudukan mufti, keilmuan, kewibawaan mereka dan menghina amalam sunnah yang dipraktikkan? Akbar tidak sepatutnya sekali-kali menghina sunnah sekiranya dia sendiri tidak mampu melaksanakannya. Inilah salah satu bentuk penghinaan yang melampau. Malah bukan itu sahaja Akbar juga menyifatkan perundangan islam sebagai perundangan yang tidak adil menerusi artikel yang ditulisnya: "Death for Apostates Unjust" oleh Akbar Ali - The Sun, 14 Julai 1999.

Manakala NGO Sister In Islam juga acap kali mengeluarkan kenyataan, artikel dan rencana yang menyeleweng dari Syariah Islamiah itu sendiri. SIS bukan sahaja telah mengeruhkan pemahaman Islam berkaitan wadah perjuangannya untuk mempertahankan hak golongan wanita, malah turut mengecam institusi Fiqh Islami bilamana sengaja menimbulkan kekeliruan dan pandangan yang salah berkaitan hal hukum-hakam. Saya pernah menulis satu artikel tentang kebodohan SIS menilai perundangan Islam dalam erti kata SIS bukan sahaja keliru malah mengelirukan.

Selain itu, Zainah Anwar, Kassim Ahmad, dan Malik Imtiyaz Sawar antara pemuka tambahan yang sering mempersoalkan tentang Islam. Muak rasanya berhadapan golongan seperti ini. Saya suka menyifatkan golongan seperti ini sebagai 'pengikut hawa nafsu' akibat meletakkan wahyu di bawah tapak kaki mereka sendiri.

Bagaimanapun, pemahaman Islam yang jernih dan hakiki perlu diperkemaskan semula. Manusia-manusia seperti Farish Nor, Akbar Ali, Zainah Anwar dan NGOnya Sister In Islam (SII), Astora Jabat dan Malik Imtiaz Sawar dan seangkatan dengan mereka wajar kembali kepada Islam yang hakiki. Buanglah kepentingan apa-apa demi kemaslahatan di akhirat kelak. Saya percaya, dunia Islam tidak akan rugi dengan kebiadapan yang ditonjolkan kalian, tetapi ingatlah bahawa Janji Allah pasti berlaku.
Berapa kalimah kau bertutur dalam sehari?
Berapa kalimah kau bertutur dalam sehari?


Kita tidak pernah mengira berapa kalimah yang dituturkan kita dalam sehari, apatah lagi untuk mengira kalimah yang kita tuturkan dalam seminggu, sebulan, setahun dan seumur hidup. Terlalu nadir, akan kita temui manusia yang mengira perkataan yang dituturkan dalam setiap hari dia melalui kehidupan. Justeru, kita bertutur dan kita membiarkan pertuturan itu berlalu seperti kita membiarkan setiap detik dari masa kita berlalu.
Saya pernah menghadkan kalimah yang perlu saya tuturkan dalam sehari. Namun, saya kemudiannya melupakannya. Bukan kerana saya tidak berjaya, tetapi saya merasakan saya terlalu terikat.

Cuba kita ambil jam berjarum dan kita lihat pada jarum jam yang bergerak itu. Setiap gerakan yang berdetik pada jarum itu tidak lagi akan berulang. Masa terus berlalu. Masa di dalam kehidupan realiti tidak akan menjadi seperti masa yang dipaparkan di dalam 'Back to the future' di mana watak bisa kembali ke zaman lampau dan pergi ke masa akan datang. Ini kerana itu hanyalah filem yang disarati mitos dan kita yang berakal waras ini juga tidak percaya. Kalau begitu benarlah kehidupan ini, ia tidak akan berulang pada masa yang sama. Kalau hari ini pada jam 2 petang kita makan nasi berlauk ayam bersama keluarga kita, mungkin esok hari pada jam yang sama dan tempat yang sama dan orang yang sama kita makan makanan yang sama; itu bukanlah sama, kerana walaupun tragedi dan pristiwanya sama tetapi kita jangan lupa masa sudah pun berbeza.

Dalam kehidupan, kita sering berkomunikasi. Dan setiap kemunikasi itu selalunya meninggalkan perasaan tertentu yang merupakan tanggapan kita terhadap orang tersebut. Misalnya kita berkomunikasi dengan pensyarah kita di kuliah, persepsi kita terhadap pensyarah itu sama ada kita menganggapnya hebat, berilmu luas, peramah dan sebagainya sudah tentu berbeza dengan persepsi kita terhadap orang lain yang turut berkomunikasi dengan kita. Begitu juga dengan manusia lain terhadap kita, mereka punya hak untuk menganggap apa-apa terhadap kita. Namun, pernahkah kita mengira berapa kalimah yang telah kita tuturkan?

Bercakaplah sekiranya setiap kata-kata itu memberikan manfaat, dan diamlah jika perkataan yang ditutukan itu bakal mengundang sesuatu yang tidak baik. Kita mungkin pernah mendengar pepatah yang mengatakan: "berkata-kata itu perak, sedang diam itu emas." Namun, saya beranggapan tidak semua perkara perlu diukur dengan menggunakan 'pembaris' yang sama.

Bagi seorang ilmuan, berkata-kata adalah lebih baik dari diam. Bagi seorang penipu, diam lebih baik dari berkata-kata. Bukankah ini sudah menjelaskan maksud tidak hanya satu pembaris itu?

Di Mesir saya berkomunikasi dengan masyarakat Arab Mesir. Jika ditanya kepada seluruh masyarakat arab di dunia, mereka akan bersepakat mengatakan bahawa orang arab yang paling kasar, adalah orang Arab Mesir. Malah saya sendiri mengakui akan kebenaran provokasi itu. Sememangnya secara literal, orang arab Mesir sememangnya kasar. Sepanjang hampir empat tahun saya bermukim di sini, saya dapati satu kesimpulan orang arab mesir memaparkan sosio-budaya kehidupan mereka menepati tanggapan orang terhadap mereka.

Saya tidak membenci Arab. Apatah lagi Arab adalah bangsa Baginda junjungan. Baginda Rasulullah SAW lahir dalam masyarakat Arab. Dia bertutur di dalam bahasa bangsa itu. Tetapi jangan kita lupa bahawa Baginda sendiri pernah mengingatkan di dalam sebuah hadis: "Tiada perbezaan di antara arab mahupun a'jami (bukan Arab) selain ketaqwaan."

Saya pernah menempelak seorang rakan sekuliah berbangsa Arab yang menafikan kami 'ajnabi (Orang luar) terhadap keistimewaan kuliah. Dan kebetulan pada masa itu saya teringatkan hadis dan ayat Al-Quran surah al-Hujurat ayat 13 lantas membacakan kepada rakan Arab itu. Meski dia berkeras dengan mengatakan 'araby aula, nahnu sya'bil mukhtar!" (Orang Arab lebih dahulu (baik), kami bangsa terpilih). Saya mula menanam kebencian kepada bangsa Arab yang angkuh dan bersifat 'al-qaumiyah' (nasionalis) serta sombong.

'Isam adalah seorang sahabat yang juga berbangsa Arab. Beliau mengubah persepsi saya sedikit demi sedikit. Sekurang-kurangnya saya berpendapat kita orang Melayu yang dikenali bersopan santun ini, boleh berkawan dengan arab yang kasar itu. Saya masih ingat bagaimana saya pernah berjidal (berhujah) dengan 'Isam tentang persoalan-persoalan berbaur salafi, akidah dan hukum. Dan di dalam setiap perjidalan itu saya sering kalah, bukan kerana pandangan yang saya utarakan itu lemah...tetapi penguasaan bahasa saya yang agak kurang memuaskan ketika itu. Padanlah bagi seorang penuntut tahun satu, yang sering janggal bermulazamah dengan lughah arabiah baik fushah mahupun ammiah. Namun selepas "Isam dan saya berselisih faham kami agak kurang mesra seperti di tahun satu dulu. Namun, Arab seperti Isam boleh dijadikan kawan.

Saya pernah berjumpa dengan seorang pemandu teksi yang menyumpah-nyumpah Presiden Republik ini. Padanya Mesir terlalu bacul untuk menghulurkan bantuan kepada mangsa Palestin. 'Muzaharat' (demonstrasi) yang diadakan saban waktu tidak diendahkan. Dan beliau begitu kesal terhadap polis-polis yang menyekat suara rakyat. Saya mengira apa yang dituturkan itu seolah beliau menelaah negara saya (Malaysia). Kemudian bila saya hampir tiba ke destinasi saya beliau bertanya bagaimana suasana di negara saya. Saya hanya diam dan pemandu itu tersenyum.

Seorang pemandu teksi lain yang saya sempat berbual ketika perjalanan dari 'Muhafazah ke Talkha' di Mansurah juga meninggalkan persepsi saya bahawa Masihi di Mesir sudah akrab dengan Islam, cuma mereka tidak mahu memeluk Islam kerana orang Islam Mesir sendiri tidak menunjukkan contoh yang baik. Dia begitu bersungguh menanyakan kepada saya apakah 'an-nadzofah' (kebersihan) sebagai perkara penting di dalam Islam dan beberapa perkara lain yang dilihatnya diamalkan oleh orang-orang Islam Arab Mesir seperti menipu di dalam berniaga, bergaduh dll. Tanpa berfikir panjang saya mengiyakan bahawa sememangnya kebersihan adalan anjuran Islam. Dan akhirnya jawapan saya itu menyebabkan dia mengutuk umat Islam Mesir yang tidak menjaga kebersihan. Padanya Islam tidak memaparkan contoh yang baik. Walaupun saya berkeras mengatakan bahawa jangan melihat kepada orang yang menganut, tetapi lihat kepada Islam yang dianuti, dia tetap berkeras... bahawa Jika tiada contoh dari yang ada, bagaimana pula yang tiada! Saya bingung. Kalaupun saya menggunakan pelbagai hujah ketika itu, saya tetap sukar untuk menang. Benarlah lisanul hal (contoh perbuatan) itu lebih baik dari lisanul qaul (perkataan).

Simpati terhadap umat Islam yang tidak sedar melantun-lantun, tetapi apa boleh buat? seorang makmum di Masjid berdekatan tempat tinggal saya bertanya apakah bersalaman selepas solat itu saya pelajari dari negara saya atau di Mesir. Saya mengatakan di mana-mana juga orang Islam mengamalkannya. Tetapi selepas itu, 'Ammu (pakcik) itu berkata sambil tersenyum: "Tetapi umat Islam tidak menyukainya." Ini menunjukkan walaupun bersalaman atau memberikan salam itu adalah syiar Islam, tetapi umat Islam tidak menyukainya atau dalam lain perkataan umat Islam tidak me'mulazamah'kannya di dalam kehidupan seharian.

Semalam terakhir saya bertemu dengan seorang 'Ammu yang begitu bersungguh mengatakan bahawa dia amat menyukai orang-orang ajnabi seperti saya (orang luar yang datang ke Mesir) kecuali orang-orang wisata (pelancong) yang datang sekadar melancong seperti orang-orang Eropah. Saya mengukir senyuman. Pada saya itu hanyalah kalimah 'mujamalah' yang sering saya dengar dari orang-orang Arab Mesir. Tetapi apa yang sering berlaku dalam kehidupan realiti berkomunikasi dengan mereka meresahkan.

Saya lebih rela tidak membeli barang di suq (pasar) gara-gara harga yang ditawarkan adalah harga tipu. Saya lebih rela menjadi 'dagang' di sini, dari menjadi sebahagian mereka. Saya kira kehidupan masyarakat pelajar di Mesir jauh berbeza dengan kehidupan masyarakat pelajar di tempat lain. Setiap muka bumi punya kisahnya yang tersendiri.

Apabila Ammu yang saya temui semalam memperkenalkan dirinya Hassan bertanya apakah saya akan kembali lagi ke Mesir walaupun setelah saya tamat pengajian dan pulang ke Malaysia. Saya mengatakan InsyaAllah. Saya sendiri tidak tahu bagaimana perkataan itu boleh terpacul dari bibir saya. Kalau diikutkan kemarahan dan persepsi terhadap Masyarakat sini, mahu saja saya katakan yang saya sememangnya tidak menyukai orang Mesir. Tetapi hari ini, seolah hati saya sudah dilembutkan. Tidak semua orang Mesir itu sebagaimana persepsi buruk saya terhadap mereka. Ya ada keburukan, ada kebaikan.

Jangan lupa ramai ulamak lahir dari kalangan orang Mesir. Meskipun bumi ini berlantaikan tamadun Kinanah, lembahnya dari Nil yang basah, Tidak bermakna Ruh Musa juga terpisah. Biarlah Firaun, Biarlah Haman, Biarlah Qarun. Watak-watak jahat itu, watak yang juga ada di mana-mana.
Semakin banyak kita bertutur, semakin banyak peristiwa yang kita alami, semakin bertambah persepsi dan pengetahuan kita. Semakin itu juga kita menjadi matang dengan apa yang kita lalui. Pasa saya kehidupan kita ini dipengaruhi oleh persekitaran, bahan bacaan, orang yang kita dampingi, keluarga, sosio-budaya dan apa yang kita dekati. Tetapi sejauh mana kita terpengaruh, itu bergantung pada diri kita sendiri untuk membuat pilihan dan keputusan yang terbaik untuk diri sendiri.

Akhirnya, berapa kalimah telah kita tuturkan? Yang pasti biarlah manfaatnya tersebar. Kerana kita adalah haiwan yang bertutur mengikut tanggapan ilmu mantiq.
Sanggahan Terhadap Metod Sisters in Islam
Rencana: Sanggahan Terhadap Metod Sisters in Islam



Jika Subki Latif yang terkenal dengan catatan Min Aina Ila Aina dalam Akhbar Harakah juga sebagai kolumnis laman web Harakahdaily.net malah penulis beberapa tabloid dan majalah tempatan pernah menyatakan pendiriannya bahawa status Sisters In Islam (SII), sebuah NGO di Malaysia sebagai kumpulan orang-orang mengaji tak berguru, saya lebih cenderung berkata status Sisters In Islam sebenarnya adalah sebagai kumpulan orang-orang tak mengaji tetapi berlagak menjadi guru.

Antara saya dan Subky Latif tentu jurang terlalu jauh membezakan. Subki seorang penulis terkenal, sebaliknya saya hanya siapa? Kalaupun saya 'berkokok' dengan lantang sekali berkata begitu terhadap status SII mereka mungkin tidak perlu langsung untuk ambil kesah atau merasa tergugat. Siapalah saya untuk melabelkan SII sebagai kumpulan orang-orang tak mengaji tetapi berlagak menjadi guru itu.

Namun saya tetap berpendirian sebegitu hatta sekarang. Ini jelas kerana SII lantang berbicara persoalan seputar agama Islam bagai seorang syeikh!

Tentu masih di ingatan, sewaktu negara digemparkan dengan isu Kerajaan Terengganu pimpinan Datuk Seri Hj Abdul Hadi Awang membentangkan enakmen undang-undang Jenayah Syariah (Hudud dan Qisos) untuk dilaksanakan di negeri itu, SII turut mengambil bahagian memeriahkan suasana. Tetapi bukan untuk menyokong enakmen itu dilaksanakan, sebaliknya menimbulkan beberapa persoalan supaya enakmen itu berjaya digagalkan. Inilah peranan penting SII ketika itu.

Siapa sebenarnya SII untuk membincangkan isu enakmen undang-undang jenayah syariah itu? Adakah SII 'sukarela' politik parti tertentu untuk menentang pendirian kerajaan Terengganu dari gabungan Barisan Alternatif itu? Kalaulah Subki mentelaah SII sebagai kumpulan orang-orang mengaji tak berguru, tentu sahaja pembaca tulisan subki itu sudah mampu menangkap maksud yang dilontarkan Subki. Subki tidak akan berkata begitu jika SII tidak mencerminkan apa yang dikata Subki. Masakan pokok bergoyang andai angin tidak bertiup.

Selain sebagai sebuah NGO yang berlatarkan perjuangan mempertahankan hak-hak kewanitaan dalam masyarakat kononnya, SII juga merupakan badan yang sering membicarakan persoalan agama Islam secara bebas. Peranan ini samalah seperti beberapa pertubuhan yang lain yang sering membicarakan tentang persoalan seputar agama Islam.

Melihat kepada senario tanahair, Persatuan Ulamak Malaysia (PUM) merupakan badan NGO yang paling bertanggung jawab penuh menjelaskan letak duduk perkara sebenar berhubung Islam. Tetapi persoalannya mengapa SII harus menampilkan diri melebihi PUM sedangkan mereka sendiri tidak jelas apa itu Islam yang sebenar.

Persoalan siapa menaja SII bukanlah perkara yang perlu diperbincangkan. Ini kerana SII sendiri merupakan NGO yang licik bermain tari di pentas persada tanahair. Inilah yang merunsingkan ulamak-ulamak Islam di Malaysia. Misalnya dalam permasalahan Fiqh berhubung wanita, SII dengan rakus mempersoal itu dan ini. SII dengan berani mempertikai ijtihad ulamak-ulamak muktabar dalam era perkembangan Fiqh suatu masa dahulu. Apa gunanya perkembangan fiqh pada era tersebut jika SII yang hanya wujud pada abad ke 20 mempersoalkannya semula?

Sememangnya tidak dinafikan bahawa ijtihad dalam persoalan fiqh berlaku perselisihan. Tetapi perselisihan tersebut hanya berlaku dalam persoalan cabang dan yang terdedah kepada ijtihad kerana terdapat beberapa perselisihan dalil. Manakala dalam persoalan berkaitan kewajipan solat lima waktu, kewajipan puasa dan selainnya yang merangkumi persoalan ibadat, muamalat, munakahat, jinayat, siasah dan sebagainya ijma' telah menjadikan dilalah dzanni ke martabat qati'e. Tindakan SII mempersoalkan keharusan poligami, relevankah iddah bagi isteri yang diceraikan atau fasakh, persoalan sekitar cerai, dan beberapa perkara lain berkaitan kekeluargaan Islam yang turut dipersoalkan menampakkan identiti SII yang seolah membuka pekung di dada sendiri.

Perlu diingatkan sesuatu peruntukan di dalam fiqh Islami adalah diistinbat (diambil) dari nas-nas yang terdapat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Manakala peruntukan-peruntukan lain yang tiada nas adalah dzan yang lahir daripada ijtihad mengikut disiplin ilmu yang mapan. Di dalam mengeluarkan pandangan semua mujtahid mutlak seperti Imam 4 mazhab mempunyai kaedah usul fiqh yang tersendiri bagi menentukan sesuatu hukum fiqh. Berbanding pertubuhan Sisters in Islam, apakah kaedah yang mereka gunakan? Tidak lain dan tidak bukan hanyalah kaedah akal dan dorongan nafsu semata-mata.

Berbalik kepada persoalan enakmen undang-undang Jenayah Syariah (Hudud dan Qisos) yang dibentangkan, SII turut menyuarakan pandangannya. Di antara persoalan popular yang diketengahkan ialah masalah berkaitan dengan qazaf terhadap wanita mangsa rogol yang diperuntukkan dalam enakmen tersebut, apabila wanita itu tidak mampu mengemukakan saksi terhadap pendakwaannya. SII menyatakan bahawa peruntukan tersebut bersifat menzalimi kaum wanita sehinggakan mereka yang tidak mampu mengemukakan saksi tidak mampu menghadapkan pendakwaan dan kes itu berakhir begitu sahaja.

Bagi SII apalah sangat hudud dan qisos itu. Perlaksanaan hukuman melalui peruntukan enakmen tersebut dilihat kejam, diskriminasi, berlaku kecelaruan, pertindanan dan sebagainya. Bagi SII perlembagaan persekutuan telah pun memperuntukkan hukuman terhadap kesalahan jenayah tersebut yang berada di bawah bidang kuasa persekutuan. Malah, rang enakmen cadangan tersebut mempunyai peruntukan-peruntukan penghukuman yang jauh melampaui batas kuasa yang telah ditetapkan bagi Kerajaan negeri serta akan mewujudkan peruntukan yang bertindan memandangkan beberapa kesalahan di bawah rang undang-undang ini telah pun termaktub di dalam undang-undang Persekutuan. Ini bermakna, bagi sesetengah kesalahan, akan wujudnya dua sistem perundangan yang bercanggah.

SII melihat undang-undang persekutuan sama sekali tidak bercanggah dengan prinsip-prinsip perundangan Islam memandangkan undang-undang jenayah Islam memberikan ruang yang luas bagi pembentukkan peruntukan bagi kesalahan-kesalahan berbentuk ta'zir. Tetapi pada dasarnya SII langsung tidak memahami apakah kesalahan-kesalahan yang telah ditetapkan 'had' dalam Al-Quran adakah masih boleh dihitung sebagai kesalahan bercirikan ta'zir? Ta'zir hanya dikenakan bagi kesalahan-kesalahan yang tidak terdapat nas 'had' yang tertentu. Ini bermakna bukan semua kesalahan boleh dikenakan ta'zir semata-mata.

SII kemudiannya merujuk kepada peruntukan perlembagaan Artikel 8(1) yang bermaksud setiap orang mempunyai hak yang sama disisi undang-undang. Sedangkan enakmen Jenayah Syariah itu memperuntukkan pilihan bagi orang bukan Islam untuk memilih samada mahu diadili melalui undang-undang itu tetapi tiada pilihan bagi Umat Islam. SII mendakwa ini bertentangan dengan peruntukan perlembagaan Artikel 8(1) tersebut. Justeru SII mempertahankan prinsip kesetaraan yang dianjurkan oleh perlembagaan persekutuan.

SII melihat Islam melalui sudut yang sangat sempit. Pandangannya hanya tertumpu pada prinsip kesamarataan yang dicanangkan, malah mereka hanya melihat kedudukan adil hanya apabila kesetaraan dilaksanakan. Dengan itu SII berpandangan pembentukan undang-undang setelah adanya peruntukan undang-undang persekutuan (Malaysia) adalah sesuatu yang tidak relevan sedangkan persoalan adakah perundangan sivil yang sedia ada menepati keadilan sebenar? SII bingung memutarkan idea akalnya.

Keadilan dalam Islam tidak dilihat apabila kesetaraan dikuatkuasa sedangkan kesetaraan itu tidak menepati tempat dan kesesuaiannya. Sebagai contoh mudah: seorang bapa yang adil terhadap dua anaknya di mana seorang anaknya adalah lelaki dan seorang lagi adalah perempuan perlu menyediakan keperluan anaknya bersesuaian dengan jantina anak-anaknya. Sekiranya untuk memperlihatkan prinsip kesetaraan yang dicanangkan SII adalah lebih baik si ayah membelikan pakaian yang sama sedangkan pakaian yang dibeli si bapa hanya boleh menutup aurat anak lelakinya, tidak aurat anak perempuannya. Ini kerana pakaian itu hanya sesuai bagi anak lelakinya. Adakah si bapa berlaku adil terhadap kedua-dua anaknya? Untuk memperlihatkan adil si bapa; dia mestilah membelikan pakaian yang sesuai kepada anak-anaknya yang berlainan jantina itu meskipun pakaian itu tidak sama jenis. Meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya barulah boleh dinilai sebagai adil. Bukan semata-mata kesetaraan.

Meskipun tidak boleh dinafikan terdapat kelemahan yang terdapat di dalam enakmen jenayah Syariah (Hudud dan Qisos) Terengganu tersebut, namun kelemahan tersebut adalah berpunca dari masalah teknikel dan boleh dikatakan itulahlah resam apabila sesuatu perkara baru diperingkat permulaan kebiasaannya terdapat kelemahan. Akan tetapi kelemahan tersebut bukanlah bermaksud untuk memperlihatkan ketidaktelusan perundangan Islam. Itulah kelemahan yang perlu diakui oleh manusia sebagai makhluk yang tidak terlepas dari melakukan kesilapan dan kesalahan. Akan tetapi tindakan SII menghentam dan menempelak Kerajaan Terengganu yang beria-ia hendak melaksanakan perundangan Islam itu adalah tindakan yang wajar disifatkan mempunyai niat jahat. Sekiranya SII sendiri mengakui bahawa perundangan Islam adalah perundangan yang terbaik mengapa dipersoalkan tentang kelebihan peruntukan perundangan persekutuan, Pertindanan kehakiman dan penghukuman, pelaksanaan penghukuman sivil memadai dan sebagainya.

Ini jelas menunjukkan SII bukan Cuma hendak mempersoalkan tentang enakmen jenayah syariah itu dari sudut ketidakadilan terhadap mangsa rogol, tetapi SII sendiri tidak mengiktiraf perundangan Islam. Dengan sebab itu SII berusaha mencari kesalahan atau kekurangan yang terdapat supaya boleh dikelirukan dan sekaligus akan menyebabkan masyarakat menolak perundangan Islam.

Samada SII memang begitu atau SII bermotif lain, saya sendiri tidak pasti. Akan tetapi jika dilihat SII dari sudut idealisme mereka lebih mirip kepada kelompok orentalis di mana orentalis mempergunakan nama Islam sebagai perjuangan mereka dan dalam masa yang sama merosakkan Islam itu sendiri. Samalah seperti apa yang SII lakukan hari ini, cuma kelompok orentalis mungkin lebih merbahaya daripada SII.

Barangkali SII dan UMNO tidak ada apa-apa hubungan. Tetapi prinsip dan metod mereka terhadap enakmen tersebut adalah mirip. SII seolah-olah mampu menjadi jurucakap kepada UMNO untuk mengelirukan masyarakat.

Justeru, senario enakmen tersebut bukan hanya berlegar di arena perbincangan Ilmiah, malah melibatkan pergelutan wahana politik. Hudud dan Qisos itu mirip kepada PAS. Dengan sebab itu UMNO menempelak pelaksanaan hudud tersebut bermotif politik untuk memancing undi dalam pilihan raya akan datang. Dato' Harun Taib, orang terpenting dalam penyediaan enakmen itu pernah berkata, "Kalau ia untuk memancing undi, UMNO boleh meluluskan hudud di negeri lain dan boleh meraih undi." Akan tetapi UMNO tidak melakukannya, malah tidak berhasrat untuk meluluskannya meskipun sudah lebih 40 tahun Barisan Nasional (UMNO) memerintah setelah Malaysia merdeka pada 31 Ogos 1957.

Oleh kerana hudud menjadi kontroversi, belum tentu pengundi yang dikelirukan itu boleh mengundi PAS. Tetapi kerajaan Terengganu bertegas walaupun ia terpaksa kalah.

Untuk mencapai keredaan Allah. Walau pun kerajaan PAS Terengganu terpaksa kalah di hadapan Allah, kami redha, kata Pemangku Presiden PAS itu.

Konklusinya, SII tidak layak bercakap persoalan Islam. Ia sudah dan sedang keliru serta bakal mengelirukan.

Tamat.
AL-GHAZALI: PERINTIS FALSAFAH ISLAM
AL-GHAZALI: PERINTIS FALSAFAH ISLAM



DALAM dunia falsafah Islam Al-Ghazali merupakan perintis awal yang sangat terkenal. Beliau yang mendapat gelaran "Hujjatul Islam" adalah Ilmuwan ulung yang sangat berjasa terhadap perkembangan dunia keilmuan Islam. Nama lengkap beliau ialah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali at-Tusi. Lahir di Tus, Khurrasan pada tahun 450H.

Ayahnya merupakan seorang sufi yang sangat wara' dan kerjanya memintal dan menjual benang yang ditenun dari bulu biri-biri. Turut mendedahkan anak-anaknya dengan asas sufi. Al-Ghazali mempunyai seorang saudara lelaki bernama Ahmad. Pada mulanya beliau mendapat pendidikan awal di kampungnya sendiri dalam bidang Fiqh dan kemudian meneruskan kembara Ilmu ke Jurjan. Pernah berguru dengan beberapa orang ulamak terkenal pada zamannya, misalnya Imam al-Juwaini di Naisabur dan Nizam al-Muluk di Muaskar. Melalui Nizam al-Muluk, Al-Ghazali diterima mengajar di Madrasah Nizamiyah di Kota Baghdad disokong kemahiran bermuhadharah sehingga menjadikan dirinya seorang Ilmuwan yang amat terkenal dalam bidang Fiqh, Ilmu Kalam dan Falsafah pada zaman tersebut.

Lantaran mewarisi sifat Ulamak Islam beliau juga sering bermusafir dan mengembara dari sebuah negara ke negara yang lain bagi menambah ilmu dan menyebarkannya. Sangat dihormati oleh Pemerintah Bani Saljuk dan Abbasiah kerana keilmuannya yang mendalam dan mempelopori bidang ilmu falsafah. Menurutnya keilmuan dan keistimewaan para sufi tidak akan dapat dipelajari melalui buku-buku kecuali dengan pengalaman dan merasainya sendiri.

Falsafahnya telah meninggalkan kesan yang berpengaruh dalam diri para Intelek Islam seperti ar-Rumi, Ibn Rusyd, syah waliuLlah dan ramai lagi. Setelah beberapa lama mengembara dan mempertajamkan ilmu serta sikapnya sebagai seorang sufi, al-Ghazali kembali ke Naisabur atas desakan Fakhrul Muluk, anak kepada Nizam al-Muluk untuk kembali mengajar di Madrasah Nizamiyah. Namun tidak beberapa lama setelah itu, Fakhrul Muluk mati terbunuh dan Al-Ghazali kembali semula ke Tus dan membuka sebuah madrasah bagi menyebarkan ilmu dan mendidik hati. Al-Ghazali kembali ke rahmatullah pada tahun 505H dalam usia 55 tahun.

ASAS-ASAS FALSAFAH AL-GHAZALI

Menurut Al-Ghazali falsafah secara ringkasnya dikatogerikan kepada enam aspek penting iaitu: matematik, fizik, metafizik (KeTuhanan), politik, logik dan etika (akhlak). Malah menurutnya Islam tidak melarang mempelajari ilmu-ilmu seperti falsafah Greek asalkan ianya tidak bertentangan dengan Islam sebagaimana dibahaskan di dalam karyanya yang berjudul "Tahafut al-Falasifah" mengenai fizik dan metafizik yang mengatakan alam ini terurus dengan sendiri tanpa kawalan. Walaupun beliau bersetuju dengan sumbangan teori falsafah yang dipelopori oleh Aristotles dan Plato terhadap nilai keilmuan Islam, namun tidak semua diterima oleh beliau kerana terdapat sejuzuk dari bidang falsafah yang bertentangan dengan akidah Islam.

Dalam kitab "al-Munqidz Min ad-Dhalal" al-Ghazali menyatakan bahawa para Filosof yang menganut pelbagai mazhab dan yang membawa pemikiran yang berciri kekufuran dapat dibahagikan kepada tiga golongan:

a. Golongan ad-Dahriyyah (Aties)

Golongan ini mengingkari adanya Tuhan. Kata mereka, alam ini ada dengan sendirinya. Seperti haiwan yang ada melalui mani dan mani dari haiwan tanpa kesudahan lingkarannya, demikian pula halnya dengan alam ini. Golongan ini adalah zindiq.

b. Golongan at-Tobi'iyyah (Naturalis)

Golongan ini memusatkan perbahasan pada alam fizika, terutama haiwan dan tumbuh-tumbuhan. Keajaiban yang mereka temui menjadikan mereka mengakui adanya Pencipta yang Maha Bijaksana. Golongan ini berpendapat setiap jiwa akan fana dan tidak kembali lagi. Lantaran itu mereka mengingkari adanya hari akhirat, syurga dan neraka. Golongan ini juga termasuk zindiq.

c. Golongan al-Ilahiyyah (Theis)

Golongan ini muncul dari dua golongan yang telah dinyatakan. Seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles. Kesan daripada itu, Aristoteles telah menyanggah pemikiran para filosof sebelumnya, tetapi dia sendiri tidak mampu membebaskan diri dari sisa-sisa kekufuran. Namun ilmu-ilmu falsafah selain yang membincangkan tentang KeTuhanan boleh diterima selagimana tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sebagai contoh Al-Ghazali menunjukkan satu contoh dalam ilmu matematika yang tidak dapat diingkari kebenarannya.

Adapun dalam bidang keTuhanan Al-Ghazali berpendapat para filosof banyak bertentangan dengan agama Islam, sehingga wajib ditolak. Untuk maksud tersebut karyanya yang berjudul "Tahafut al-Falasifah" yang mengemukakan 20 masalah yang tidak sesuai dengan Islam (meliputi hal kufur dan bid'ah) harus diteliti oleh Umat Islam. Konklusi yang dibuat oleh Al-Ghazali di dalam perbahasan kitab tersebut meletakkan tiga aspek pertentangan antara filosof dan Islam iaitu:

1. Filosof menganggap qadimnya alam
2. Tuhan tidak mengetahu peristiwa-peristiwa kecil yang berlaku di bumi
3. Mengingkari kebangkitab semula jasad pada hari akhirat

Sebagai cadangan untuk menyelak pemikiran falsafah Al-Ghazali bolehlah membaca karyanya "Tahafut al-Falasifah" dan "Maqasid al-Falasifah."

PERSPEKTIF SARJANA ISLAM TERHADAP AL-GHAZALI

Para Ilmuwan Islam baik sezaman dengan beliau atau selepasnya amat tertarik dengan daya pemikiran dan falsafah yang diketengahkan beliau untuk tatapan umat Islam. Sebagai seorang pengkritik kepada filosof beliau juga tidak terlepas daripada diertikaikan sebagai seorang ahli falsafah. Contohnya Ibn Rusyd yang menulis sebuah buku berjudul "Tahafut at-Tahafut" sebagai serangan balas terhadap dakwaan Al-Ghazali yang menentang pemikiran falsafahnya. Walau bagaimanapun perkara ini dianggap sebagai suatu kebiasaan para ilmuan mendatangkan hujah dan dalil terhadap perselisihan pendapat di kalangan mereka. Perkara sebegini juga berlaku terhadap Plato apabila teori falsafahnya diperbetulkan oleh muridnya, Aristoteles.

Menurut Ibn Tufail dalam menghuraikan penentangan Al-Ghazali terhadap aspek metafizik di atas tadi bahawa ianya memang suatu kontradiksi daripada fikirannya dan ada lain pendapat yang mengatakan ianya kesan perkembangan pemikiran Al-Ghazali bermula dari peringkat awal pendidikannya sehinggalah beliau mengalami pelbagai pengalaman dan peningkatan terhadap ilmu pengetahunnya.

Selain Sarjana Islam, Orientalis barat dan penulis-penulis bawat juga sering menulis tentang Al-Ghazali. Antara mereka ialah J.Wensik, Obbermana, Cara De Vaux dan lain-lain lagi lantaran kekaguman terhadap teori falsafahnya. Pun begitu mereka yang sering mengikuti perkembangan Al-Ghazali sering memberikan pandangan dan penafsiran yang berbeza-beza antaranya B.B Mc donald yang menyifatkan Al-Ghazali sebagai seorang tokoh yang terkenal di dunia Islam sebagaimana Augustinus dalam dunia Kristian. Malah Pascal, filofoh terkenal Perancis sering merujuk kepada pendapat Al-Ghazali dalam falsafahnya.

KARYA AL-GHAZALI

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali adalah ulamak dan pemikir Islam yang sangat produktif dalam penulisan. Jumlah hasil tulisannya sehingga kini masih tidak dapat ditentukan dengan tepat secara defenitif oleh para penulis sejarahnya. Ini kerana ada di antara kitab-kitabnya yang telah diterbitkan dan masih ada yang tersimpan dalam perpustakaan makhtutah negara-negara Arab. walau bagaimanapun Abdurahman Badawi mengklasifikasikan karya Al-Ghazali kepada tiga katogeri. Pertama kitab yang dikenalpasti dengan tepat sebagai karya Al-Ghazali sejumlah 72 kitab. Kedua, kelompok yang diragui terdiri dari 22 kitab dan ketiga, Kitab yang dapat dipastikan bukan karyanya sejumlah 31 kitab.

Kitab-kitab yang ditulis oleh beliau meliputi pelbagai bidang ilmu seperti al-Quran, akidah, ilmu kalam, usul fiqh, fiqh, tasauf, mantiq, falsafah, kebatinan dan lain-lain. Antara karyanya yang sangat berpengaruh dan dominan ialah:

1. Tahafut al-Falasifah
2. Ihya' Ulumiddin
3. al-Munqidz Min ad-Dhalal
4. Miskat al-Anwar
5. Maqasid al-Falasifah
6. Majalis Al-Ghazali
7. al-Mustazhari

Hasil karya beliau sering menjadi rujukan terutama dalam bidang falsafah ialah "Tahafut al-Falasifah" yang banyak membongkar pemikiran dan pendirian beliau. Karyanya ini merupakan jawapan dan pendirian terhadap falsafah yang bertentangan dengan akidah Islam. Inilah bukti yang menjadikan beliau ahli falsafah yang mempunyai keistimewaan. Dalam pencarian hakikat dan kebenaran yang sering mendorong dirinya menjadi seorang pengkaji yang bukan hanya mendalami ilmu malah mengamalkan keilmuan dan merasai dzuq seorang muslim sejati. - Tamat.
Kita Punya Tanggungjawab Yang Besar
Pendapat: Kita Punya Tanggungjawab Yang Besar

Oleh: Akhi Masrawi

Sewaktu saya mengetuk-ngetuk papan kekunci PC saya, ingatan saya menerawang jauh ke sebuah peristiwa yang pernah saya lalui suatu ketika dahulu. Kalau tidak salah saya ketika itu saya masih di sekolah menengah dan baru berkenalan dengan gerak kerja di dalam organisasi dan berpersatuan.

Ianya berlaku di dalam sebuah program yang menghimpunkan para kepimpinan persatuan dan sekolah di sebuah lokasi. Apa yang hanya ingin saya ceritakan di sini ialah pengalaman yang saya lalui ketika satu slot modul yang dilaksanakan di dalam program tersebut.

Modul itu mudah dan ringkas. Kami diberikan sehelai kertas yang bertulis seperti di bawah:

INI KISXH MESIN TXIP YXNG BURUK:

MESIN TXIP INI SUDXH BURUK. SUDXH LXMX SXYX MENGGUNXKXNNYX. SEKXRXNG SXYX BERCXDXNG HENDXK MEMBELI SEBUXH KOMPUTER YXNG BXRU DXN JXUH LEBIH CXNGGIH DXRI MEXIN TXIP BURUK INI. MESKIPUN MESIN TXIP INI BURUK, IX BXNYXK BERJXSX; TETXPI SEKXRXNG IX TIDXK BOLEH DIGUNXKXN LXGI. JXDI MESIN TXIP BURUK INI SXYX RXSX ELOK DISIMPXN SXJX DI DXLXM STOR.

Saya mencari apa maksud modul itu. Selain ayat-ayat yang sengaja ditulis dalam keadaan yang salah penggunaan abjad, apa istimewanya modul itu. Saya mula berfikir.

Saya melihat hanya abjad A yang tidak digunakan. Sebaliknya huruf A digantikan dengan penggunaan huruf X. Tetapi perkataan yang ditulis tidak mampu disebut sebagaimana huruf A berperanan. Mungkin kerana huruf A ini luas penggunaannya maka walaupun diganti dengan huruf X masih mampu diagak untuk membacanya.

Apalah sangat barga sebuah mesin taip buruk itu? Kalau huruf A nya sudah rosak, dan tidak boleh digunakan lagi. Betullah tindakan tuannya supaya membeli komputer yang jauh lebih canggih bagi menggantikan mesin taip yang buruk dan rosak itu.

Namun jika dilihat dari sudut yang lain, ada beberapa pertimbangan dan pendapat yang boleh diutarakan. Antaranya ialah:

1. Huruf-huruf seperti sebuah organisasi, setiap huruf memainkan peranannya yang tersendiri. Begitulah halnya dengan sesebuah organisasi, setiap orang mempunyai peranan yang tersendiri. Oleh sebab itu bukan semua orang boleh memegang jawatan ketua. Sebagaimana huruf A dalam kisah mesin taip buruk itu, huruf X tidak mampu berperanan seperti A.

2. Walaupun huruf A sudah tidak boleh digunakan lagi, X sanggup mengambil tempat A dalam erti kata X telah berkorban untuk menyelamatkan keadaan. Meskipun X bukanlah layak mengambil kedudukan tersebut. Namun sekiranya X tidak memainkan peranan ketika itu kemungkinan pelbagai agenda akan tergendala. Malah lebih teruk semua yang terlibat akan dipersalahkan hanya kerana A sudah tidak berfungsi. Dalam kes mesin taip buruk ini, hanya kerana A yang rosak; tuan mesin taip itu bercadang untuk membeli komputer, mengapa?

3. Kalaulah A sudah tidak boleh digunakan lagi, dan yang lain pula tidak mampu untuk bertindak seperti A atau lebih baik dari itu, maka adalah lebih baik menukar kepada sistem yang lain. Dalam kes ini sekiranya sesebuah organisasi atau negara yang mempunyai kepimpinan yang tidak lagi boleh dipakai, adalah lebih baik menukarkan kepada kepimpinan yang lain. Sebagai contoh mudah, tuan punya mesin taip buruk itu tidak berminat untuk membeli komputer, maka dia akan memilih untuk memperbaiki mesin itu, sedangkan dia mempunyai banyak kemungkinan selepas itu terpaksa pula memperbaiki huruf-huruf yang lain, atas alasan mesin itu adalah mesin taip buruk. Sesuatu yang buruk, manfaatnya sudah tidak bersisa.

Dari hari itu saya mula berfikir dan berfikir... Hidup kita ini seperti sebuah pelayaran. Dan ketua kita adalah nakhoda kapal itu. Kalaulah nakhoda itu sudah tidak mampu untuk melayarkan kapal kita supaya tiba di terminal dengan selamat, bukankah lebih baik kita memilih nakhoda yang baru bukan terus memberikan sokongan sehingga bukan hanya dia yang akan tersesat malah dia juga akan menyesatkan kita.

Justeru, pemimpin itu umpama hati. Jika hati itu baik, maka baiklah semua anggota. Tetapi jika hati itu jahat... maka rosaklah yang lain juga.

Kalian ada pendapat?
Reaksi: Orientalis dan Skil Menyesatkan Umat Islam
Reaksi: Orientalis dan Skil Menyesatkan Umat Islam

Oleh: Akhi Masrawi

Ramai yang mendapat tasawur yang salah bila hanya membaca buku sejarah yang ditulis oleh mereka yang berpendidikan orentalis (studi ketimuran). Ini kerana orentalis telah melakukan penyelewengan terhadap disiplin ilmu yang sedia ada sedangkan asalnya diceduk daripada cendekiawan dan ulamak islam silam. Fenomena ini bukan sahaja berlaku terhadap karya-karya sejarah malah turut melibatkan karya-karya lain dalam pelbagai aspek. Antara karya- karya tersebut yang dapat dikenal pasti ialah: The Muslim World karya Zweimer, The Muslim world karya Le Monde Musalman, Muqaddimah Tarikh Tasauf AJ Obery, Dairatul maarif Islami oleh Barroncarra de VouzeMassilion/ DB Mcdonald, Al-Islam oleh Alfred Geom, Hilaj Assufi Assyahid Fil Islam oleh Massinion, Tatawwur Ilmu KalamWal Feqh wannizomiah dan Ad-dusturiah Fil Islam oleh DB Mcdonald, As-Syarkil Awsat oleh M Green, Al-harbu was Silmi fil Islam oleh Majid Quduri dan banyak lagi. Justeru jika kau memiliki hasil-hasil karya yang ditulis oleh orientalis-orentalis ini haruslah berhati-hati dengan dasar pemikiran yang dibawa.

Kawan aku, Own menghasilkan sebuah penyusunan kertas kerja tentang orentalis (istisyraq wal mustasyriqun) dan dibentangkan tahun lepas. Dalam kertas kerja itu juga turut menjelaskan penglibatan orentalis dalam menyesatkan umat Islam selain beberapa perancangan sulit lain beberapa pertubuhan bawah tanah zionis. Tujuan mereka tidak lain untuk menyesatkan umat Islam, dan setelah pemikiran boleh mereka kuasai maka mudahlah untuk menjajah dan mereka akan membentuk kekuatan kuffar yang tersendiri.

Bagaimana orentalis muncul? Sejarah yang pasti dan tepat tentang kemunculan orentalis tidak dapat dipastikan. Bagaimanapun besar kemungkinan kemunculan orentalis boleh dikaitkan dengan apabila Asbania (Sepanyol) ditadbir oleh kerajaan Islam. Dengan tertubuhnya universiti Cordova ketika itu membuka ruang kepada sesiapa jua untuk menuntut ilmu kerana dasar universiti yang terbuka untuk penyebaran tamadun dan keilmuan Islam. Dengan menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar rahib-rahib yang membanjiri Andalus (Sepanyol) mampu menguasai dengan baik demi untuk mempelajari keilmuan Islam.

Seperti firman Allah di dalam Al-Quran: " Dan sesekali tidak akan meredhai orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani itu sehinggalah engkau mengikuti pegangan mereka...". Ayat ini jelas menunjukkan bahawa kelompok Yahudi dan Nasrani memang tidak akan sentiasa berpuas hati dengan Umat Islam. justeru mereka sanggup menghantar anak-anak mereka mendalami Islam dengan mengkaji dan kemudian diselewengkan. Akhirnya hasil selewengan itu akan disalurkan ke negara-negara Umat Islam dengan harapan mereka akan mendapat tasawur yang salah tentang Islam sehinggalah dasar-dasar yang diperkenalkan oleh Yahudi dan Nasrani akan dapat diterima oleh Umat Islam.

Lihatlah betapa gigihnya mereka berusaha. Sekembalinya duta-duta mereka yang datang ke Universiti Cordova untuk mendalami ilmu-ilmu Islam ke negara Eropah, mereka mewujudkan sekolah-sekolah dan berusaha menterjemah kitab-kitab berbahasa Arab ke bahasa latin yang kemudiannya menjadi rujukan lebih 6 kurun.

Kalaulah mereka hanya datang ke Cordova untuk belajar dan pulang menyampaikan ilmu itu tidaklah mengapa, akan tetapi mereka punya agenda lain. Bermula kurun ke-18 barat mula menjajah negara Umat Islam. dengan bermulanya penjajahan ini maka bermulalah juga gerakan untuk menyebarkan dakyah orentalis melalui buku-buku yang telah diselewengkan. Selain itu dianggarkan kira-kira 250,000 kitab-kitab ilmiah dipindahkan ke Eropah yang dipercayai masih kekal sehingga ke hari ini sebelum berkembangnya gerakan ini sehinggalah mengadakan perjumpaan orientalis sedunia pada 1873 di Paris.

Mungkin juga mereka melakukan semua itu akibat kekalahan dalam perang salib. Mereka menggunakan perang saraf (serangan pemikiran) sebagai alternatif menebus kekalahan dan untuk memusnahkan Umat Islam seanterio dunia. Apa yang dapat difahami gerakan orentalis ini dimulai oleh orang-orang kristian untuk mengembalikan kegemilangan mereka dan dalam masa yang sama untuk menyesat dan menarik Umat Islam untuk menyertai mereka dalam agama dan pemikiran. Gerakan seumpama ini kemudiannya disertai oleh Yahudi dan berselindung di sebalik gerakan zionis antarabangsa.

Antara matlamat orentalis dalam gerakan mereka:

i. Menimbulkan keraguan terhadap risalah Nabi Muhammad SAW dan menolak kenabian baginda dengan meragukan kesasihan wahyu yang diterima dalam keadaan nabi SAW antara sedar dan tidak sedar (khayal).

ii. Ragukan kesahihan hadis nabi dengan mengatakan ia adalah rekaan dan melemahkan kedudukan perawi yang thiqah seperti Azzuhri dan mendakwa bahawa Ibnu al Mubarak adalah seorang yang menceroboh dalam bidang hadis.

iii. Mendakwa bahawa ketamadunan Islam adalah cedukan daripada kegemilangan Empayar Rom terutamanya dalam bidang falsafah.

iv. Melemahkan ikatan persaudaraan sesama muslim dengan menghidupkan perjuangan Nasionalisme jahiliah dengan menghalang kesatuan negara-negara Islam.

Langkah Dalam Mencapai Hadaf Orientalisme:

i. Penulisan kitab yang membelakangkan Islam, Rasul, Al-Quran dan juga penyelewengan faktafaktasejarah dan ketamadunan.

ii. Menerbitkan majalah mengenai kajian tentang Islam bangsa dan umatnya.

iii. Menghantar agen-agen orientalis ke negara-negara Islam atas dasar kemanusiaan.

iv. Menganjurkan perjumpaan dan pertemuan di universiti besar di dunia dalam membahaskan persoalan mengenai Islam.

Buku-buku ilmiah Orientalis yang mengancam pemahaman Islam:

1. The Encyclopedia of Islam

2. Shorter Encyclopedia Of Islam,

3. Encyclopedia of Religion And Ethis

4. Encyclopedia of Social Science

5. Daairatul Maarif Alulum Alijtimiah

6. Diraasat Fi Attarikh.

7. Tarikh Mazahib Attafsir al Islami, Goldzeiher

Beberapa (syubhat) Kekeliruan yang ditimbulkan oleh Orentalis:

1. Mengelirukan Fikrah umat Islam terhadap jihad bahawa jihad adalah fundametalis, keganasan dan pelampau. Orentalis mengembar-gemburkan bahawa agama Islam agama yang menggunakan mata pedang untuk menguasai. Sebahagian umat Islam menafikan provokasi sedemikian sehingga menjauhkan umat Islam sendiri dari jihad serta meracuni pemikiran bahawa Jihad dengan mata pedang bukan tuntutan dalam Islam kerana mengangap ia sebahagian keganasan. Selain itu mereka mengelirukan kefahaman terhadap makna dari istilah jihad itu sendiri. Ada yang mengatakan bahawa jihad itu ialah melawan hawa nafsu, membasmi kemiskinan. Seketika kemudian lahirnya fikrah-fikrah selain itu bagi terus menyeleweng umat Islam antaranya:

a. Minum arak yang tidak memabukkan adalah tidak mengapa kerana arak menjadi suatu trend pada zaman kini.

b. Menggalakkan masyarakat menyertai kegiatan seni hiburan dengan menganggap ia sebagai tuntutan moden sehingga mampu melalaikan generasi umat Islam dari mendalami Islam serta menganjurkan konsert hiburan dengan mengganggap ia sebagai fitrah.

c. Menganjurkan kebebasan bersuara supaya sesiapa juga tidak dipandang janggal bila mengkritik sumber dustur Islam (al-quran, As-Sunnah).

d. Mewujudkan pertubuhan-pertubuhan mungkar berselindung di sebalik nama pertubuhan sosial.

2. Mewujudkan perpecahan dengan menubuhkan mazhab-mazhab serta firqah baru seperti Qadyaniyah, Bahaiyah, Bayaiyah dan seumpamanya yang ditaja oleh orentalis. Tujuan mazhab-mazhab baru ini diadakan untuk menyeleweng dan mempercepatkan kesesatan di kalangan umat Islam. selain itu mereka juga menaja pertubuhan yang mementingkan amalan sunat sehingga meninggalkan amalan wajib/ fardhu serta mengenepikan fikrah jihad serta politik.

3. Menyelewengkan As-Sunnah SAW dengan mempermudahkan pendhoifan (melemahkan) terhadap hadis-hadis saw dengan berhujah bahawa hadis di zaman rasulullah tidak dilembagakan sehingga mampu untuk dipalsukan dan sebagainya. Sedangkan as-sunnah merupakan sumber sandaran kedua selepas Al-Quran.

4. Mengkontra ulamak-ulamak silam dengan pelbagai cara dan kaedah supaya umat tidak mengungguli kehebatan ilmu turath islami.

Dalam bidang-bidang yang lain, Orentalis telah menyelewengkan fakta sejarah. antara yang paling nampak jelas ialah sejarah Melayu Melaka yang menukilkan tujuan pelayar-pelayar inggeris datang ke timur untuk mencari pengkalan untuk mendapatkan penguasaan terhadap perdagangan rempah, sedangkan tujuan itu hanya dilihat sebagai matlamat sekunder sedang matlamat primernya ialah untuk menyebarkan penyelewengan mereka dengan turut mendatangkan Rahib dan paderi bersama kapal laut yang berlabuh di Melaka beberapa kurun lalu.

Kejayaan orentalis hari ini semakin merunsingkan umat Islam. Lihatlah betapa segelintir Umat Islam juga disesatkan dengan pelbagai fikrah yang dicipta oleh mereka. antaranya beberapa ideologi yang menjadi pegangan segelintir pemimpin umat Islam kurun ini. Dengan memperkenalkan liberalisme, sekularisme, nasionalisme, Kapitalisme, sosialisme, dan pelbagai isme-isme yang lain serta beberapa hipotesisi terhadap kajian mereka antaranya teori Darwin, Libido yang diperkenal Sigmun Frued, evolusi, pragmatis, globalisasi dan sebagainya. semakin hari tanpa sedar penyelewengan itu terus berlaku... apa pelu kita buat? kembali kepada Islam secara seluruhnya! Itu jalan terbaik. Mungkin fahaman yang mendakwa politik dan agama tidak boleh digabungkan dalam pentadbiran sesebuah negara kerana politik suku, agama suku hanya sesuai diterima pakai sewaktu komunis menguasai blok dunia sekitar 50 tahun yang lalu kerana dalam fahaman komunis agama dianggap candu!

Sunday, March 9, 2008

Salah Tafsir……
Suatu pagi yang indah kat sebuah sekolah rendah, seorang guru yang
begitu dedikasi mengajar anak2 muridnya tentang betapa bahayanya
minuman keras kepada mereka. Sebelum memulakan mata pelajarannya pada hari
itu dia telah mengambil 2 ekor cacing yang hidup, sebagai sampel kehidupan
dan dua gelas minuman yang masing2 berisi dengan air mineral dan arak..

“Cuba perhatikan murid2.. lihat bagaimana saya akan memasukkan cacing ini
kedalam gelas, perhatikan betul2. Cacing yang sebelah kanan saya, akan saya
masukkan ke dalam air mineral manakala cacing yang sebelah kiri saya akan
masukkan ke dalam arak. Perhatikan betul2.”

Semua mata tertumpu pada kedua2 ekor cacing itu.

Seperti dijangkakan, cacing yang berada dalam gelas yang berisi air mineral
itu berenang2 di dasar gelas, manakala cacing yang berada di dalam arak
menggeletek lalu mati. Si cikgu tersenyum lebar, apabila melihat anak2
muridnya memberikan sepenuh tumpuan pada ujikajinya.

“Baiklah murid2, apa yang kamu dapat belajar dari ujikaji yang cikgu
tunjukkan sebentar tadi??”

Dengan penuh yakin anak2 muridnya menjawab,

UNTUK MENGELAKKAN KECACINGAN...MINUMLAH ARAK…

Pengajaran : Cakap biar terang, bak kata-kata dalam filem P Ramlee……….
Hanya Satu Jalan Menuju Allah¤
Syaikh Abdul Malik Bin Ahmad Ramdhani

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa jalan yang menjamin
nikmat Islam bagimu hanya satu, tidak bercabang. Allah telah menetapkan
keberuntungan hanya untuk satu golongan saja. Allah berrman,
Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesunguhnya
golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (QS Al
Mujadalah: 22).
Dan Dia (Allah) menetapkan kemenangan hanya untuk mereka pula. Allah
berrman,
Dan barangsiapa mengambil Allah, RasulNya dan orang-orang yang
beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut
(agama) Allah itulah yang pasti menang. (QS Al Maidah: 56).
Bagaimanapun, anda mencari dalam kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, maka
anda tidak akan menemukan di dalamnya (dalil, Red.) pengkotak-kotakan
umat kepada jama'ah-jama'ah, partai-partai atau golongan-golongan, kecuali
perbuatan itu dicela dan tercela. Allah berrman,
Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan
Allah. yaitu orang-orang yang memecah-belah agama rnereka,
dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan
¤Dikutip dari majalah As-Sunnah 08/VII/1421H hal 28 - 34.
1
merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan rnereka. (QS
Ar Rum: 31-32).
Bagaimana mungkin Allah mengakui dan melegitimasi perpecahan ummat,
setelah Dia memelihara mereka dengan tali (agama)Nya? Lagi pula, Allah telah
melepaskan tanggung jawab NabiNya -Muhammad- atas umatnya, manakala
mereka berpecah-belah, dan (Allah) mengancam mereka atas perpecahan
tersebut. Allah berrman,
Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan
rnereka (terpecah) menjadi beberapa golongan. tidak ada
sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya
urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah
akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka
perbuat. (QS Al An'am:159).
Dari Muawiyah bin Abu Sufyan berkata,
Ketahuilah, bahwasanya Rasulullah pernah berdiri di tengah-tengah
kami, lalu bersabda,
Ketahuilah, bahwasanya Ahlul Kitab sebelum kalian
terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan
bahwasanya. umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh
tiga golongan. Tujuh puluh dua di neraka, dan hanya satu
yang di surga, yaitu Al Jama'ah. 1
1Diriwayatkan oleh Ahmad 4/102; Abu Dawud no. 4597; Darimi 2/241; Thabrani
19/367, 88-885; Hakim 1/128; dan yang lainnya. Hadits ini shahih.
Juga dikeluarkan oleh Ahmad 2/332; Abu Dawud no. 4596:7 Tirmidzi no. 2642;
Ibnu Majah no. 3990; Abu Ya'la no. 5910, 5978, 6117; Ibnu Hibban 14/6247 dan
15/6731; Hakim 1/6, 128, dan lainnya dari hadits Abu Hurairah, dan Hakim mcmpunyai
beberapa riwayat lain dalam jumlah banyak dari hadits Anas bin Malik, Abdullah bin Amr
bin Al Ash, dari yang selainnya.
Hadits ini dishahihkan oleh Tirmidzi; Hakim; Adz Dzahabi, dan Al Jazajani
dalam kitab Al Bathil 1/302; Al Baghawi dalam Syarh Sunnah 1/213; Asy Syathibi
dalam Al I'tisham 2/698, Tahqiq Salim Al Hilali; Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa
3/345; lbnu Hibban dalam Shahih-nya 4/48; lbnu Katsir dalam tafsirnya 1/390; lbnu
Hajr dalam Tarikh Al Kasysyaf halaman 63; Al Iraqi dalam Al Mughni 'An Hamlil Asfar,
2
Mengomentarl hadits ini, Amir Ash Shan'ani berkata,
"Penyebutan bilangan pada hadits ini. bukan untuk menjelaskan
banyaknya orang yang binasa. Akan tetapi, hanya untuk
menerangkan luasnya jalan-jalan kesesatan dan cabang-cabang
kesesatan, serta untuk menjelaskan bahwa jalan kebenaran itu hanya
satu.
Hal ini, sama dengan yang telah disebutkan oleh ulama ahli tafsir
berkaian rman Allah,
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu
yang lunts, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu
mengikuti jalan jalan (yang lain). karena jalan jalan
itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. (QS Al
An'am: 153).
Pada ayat ini, Allah menggunakan bentuk jamak pada kata
yang menerangkan "jalan jalan yang dilarang mengikutinya", guna
menerangkan cabang-cabang dan banyaknya jalan kesesatan serta
keluasannya.
Sedangkan pada kata "jalan petunjuk dan kebenaran", Allah
menggunakan bentuk tunggal. (Ini) dikarena jalan al haq itu hanya
satu, dan tidak berbilang. 2
Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata,
Rasullah membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda,"Ini
adalah jalan Allah." kemudian beliau membuat garis lain pada sisi
no. 3240; Al Bushairi dalam Mishbahuz Zujajah, halamnan 4/180; Al Albani dalam
Silsilah Shahihah, no. 203, dan yang lainnya.
Sangat banyak. Sengaja saya sebutkan ini semua, untuk membuat ahli bid'ah yang
berupaya melemahkan hadits yang agung ini, menjadi sia-sia -aku ingin menjadikan mereka
bisu. Al Hakim berkata tentang hadits ini,
"Hadits yang agung atau banyak, sebagaimana scbagian ulama telah menempatkannya
dalam hadits-hadits yang pokok."
2Lihat Hadits Iftiraqul Ummah lla Nayyif Sab'ina Firgah, halaman 67 - 68.
3
kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, "Ini adalah jalan jalan
(yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada
jalan itu," kemudian beliau membaca,
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu
yang lurus. rnaka ikutilah dia; danjanganlah kamu
mengikutijalan jalan (yang lain). karena jalanjalan
itu rnencerai-beraikan kamu dari jalanNya. (QS Al
An'am: 153). 3
Redaksi hadits ini menunjukkan, bahwa jalan (kebenaran, pent.) itu hanya satu.
Imam Ibnul Qayyim berkata,
"Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan (seseorang)
kepada Allah hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya Allah
mengutus para rasulNya dan menurunkan ktab-kitabNya. Tiada
seorangpun yang dapat sampai kepadaNya, kecuali melalui jalan ini.
Seandainya manusla datang dengan menempuh semua jalan, lalu
mendatangi setiap pintu dan meminta agar dibukakan, niscaya
seluruh jalan tertutup dan terkunci buat mereka: terkecuali melalui
jalan yang satu ini. Karena jalan inilah, yang berhubungan dengan
Allah dan bisa mengantarkan kepadaNya. 4
Aku (penyusun) mengatakan:
Akan tetapi, banyaknya liku-liku di jalan ini yang cukup memberatkan,
menyebabkan seseorang menjadi ragu, lalu meninggalkannya.
Dan sesungguhnya kelompok-kelompok yang menyimpang, telah
menyelisihi jalan ini. (Penyebabnya), karena merasa senang dan
tenang pada jalan yang banyak, serta merasa berat untuk menyendiri.
Ingin segera tiba (tergesa-gesa, Red.) dan takut memikul beban
perjalanan yang panjang.
Ibnul Qayyim berkata,
"Barangsiapa menganggap jauh satu jalan ini, maka dia tidak akan
mampu menempuhnya."
3Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad I/435, dan yang lainnya.
4At Tafsir Al Qayyim, halaman 14-15.
4
Mengenal Jalan Yang Satu
(Menyimpulkan) dari pendapat Ibnul Qayyim di atas, maka jelaslah jalan yang
dimaksud. Dan jelas, bahwa jalan yang dimaksud disini, ialah "rukun yang
kedua" dari rukun tauhid. (Yaitu) setelah syahadat (persaksian) bahwa tidak
ada sesembahan yang haq selain Allah, maka (yang kedua, Red.) persaksian
bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Dan (kalimat) ini, juga menjadi syarat kedua diterimanya suatu amal ibadah.
Karena -sebagaimana sudah diketahui- bahwa amal ibadah tidak akan diterima,
kecuali setelah memenuhi dua syarat;
1. Mengikhlaskan agama (ketaatan) karena Allah semata.
2. Dalam beribadah hanya dengan mengikuti (cara yang dicontohkan) Nabi
Pada kesempatan ini, saya tidak bermaksud menjadikan kaidah yang mashur ini
sebagai dalil dalam pembahasan ini. Sebab, tujuan utama bahasan ini untuk
menjelaskan bahwa jalan yang pernah ditempuh Nabi, itulah satu-satunya jalan
yang bisa mengantarkan seorang hamba kepada Allah.
(Pengenalan terhadap jalan ini amat penting, pent); karena ketidak tahuan
terhadap jalan ini, rintangan-rintangannya, serta tidak mengerti maksud dan
tujuannya, hanya akan menghasilkan kepayahan yang sangat, tanpa bisa
mendapatkan manfaat yang berarti. 5
Tujuan pembahasan ini, juga untuk menjelaskan, bahwa jalan itu hanya
satu. Sehingga tidak boleh berdusta mengatas-namakan Rasulullah dengan
menda'wahkan, bahwa jalan menuju Allah itu (jumlahnya banyak, pent.),
sejumlah bilangan nafas manusia.
Atau ungkapan-ungkapan lain, yang menurut agama Allah -yang datang guna
menyatukan pemeluknya dan bukan untuk memecah-belah mereka- jelas nyata
kebathilannya. Allah berrman,
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah
kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan,
maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadiah kamu karena
nikmat Allah orang yang bersaudara. (QS All Imran: 103).
5Lihat Al Fawa'id, karya Ibnu Qayyim, halaman 223.
5
Tali yang menjamin kaum muslimin adalah kitab Allah, sebagaimana penafsiran
para ulama kaum muslimin. Abdullah bin Mas'ud berkata,
Sesungguhnya, jalan ini dihadiri para syetan. Mereka berseru,
"Wahai hamba-hamba Allah, kemarilah. Ini adalah jalan
(yang benar)."
(Mereka melakukan ini, pent.) untuk menghalang-halangi manusia
dari jalan Allah. Maka, berpegang taguhlah kalian dengan hablullah.
Sesungguhnya, hablullah itu adalah Kitabullah. (Al Qur'an). 6
Ungkapan Ibnu Mas'ud ini, mengandung dua makna yang sangat penting.
1. Jalan menuju Allah itu hanya satu. Hanya saja, jalan itu dikelilingi oleh
syetan yang ingin memisahkan manusia dari jalan ini.
Sementara itu, syetan tidak menemukan jalan terbaik untuk menceraiberaikan
mereka dari jalan ini, kecuali dengan menda'wakan, bahwa jalan
jalan itu banyak. Maka, barangsiapa yang hendak memasukkan suatu
anggapan kepada manusia, bahwa kebenaran (al haq) itu tidak hanya
terbatas pada satu jalan saja, berarti dia adalah syetan. Dan sungguh
Allah berrman,
Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.
(QS Yunus: 32).
2. Tafsir hablullah (tali Allah) yang wajib dipegang teguh oleh kaum muslimin
agar tetap bersatu, ialah kitab Allah, Al Qur'an Al Karim.
Tafsir ini tidak bertentangan dengan ucapan Abdullah bin Mas'ud yang
berbunyi,
Jalan yang lurus, yaitu jalan yang kami lalui ketika kami dtinggal
oleh Rasulullah. 7
6Diriwayatkan Abu Ubaid dalam Fadhailul Qur'an, halaman 75; Ad Darimi 2/433; Ibnu
Nashr dalam As Sunnah, no 22; Ibnu Dhurais dalam Fadhailul Qur'an, 74; lbnu Jarir
dalam tafsirnya no. 7566 (tahqiq Ahmad Asakir); Ath Thabari 9/9031; Al Ajuri dalam
Asy Syari'ah, 16; dan lbnu Baththah dalam Al lbanah, no. 135; dan riwayat ini shahih.
7Atsar shahih, dikeluarkan Ath Thabari, 10 no. 10454; Al Baihaqi dalam Asy Syu'ab
4/88-89; Ibnu Wadhdhah dalam Al Bida', no. 76.
6
Karena nabi telah mewariskan dua pusaka untuk mereka, yaitu Al Qur'an
dan Sunnah, sebagaimana sabda beliau
Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian berpegang
teguh kepadanya. kalian tidak akan sesat selama-lamanya. yaitu
Kitab Allah dan Sunnahku. 8
Ditinjau dari ekstensinya, Sunnah Rasulullah itu sama dengan kitab
Allah sebagai wahyu, dan Sunnah itu sebagai penjelas bagi Kitab Allah.
Bahkan, makhluk terbaik yang menafsirkan Al Qur'an adalah Rasulullah,
sebagaimana rman Allah
Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan
kepada umat manusia apa yang telah diturunkan
kepada mereka. (QS An Nahl: 44).
Aisyah berkata,
Akhlaq beliau adalah Al Qur'an. 9
Oleh karena itu pula, jika timbul perpecahan dan perselisihan diantara
mereka, Rasulullah memerintahkan umatnya agar berpegang teguh dengan
sunnahnya. Beliau bersada,
Dan sesungguhnya, barangsiapa diantara kalian yang hidup
setelahku, dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas
kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para
khalifah yang dibert hidayah yang mereka di atas petunjuk.
Berpegang teguhlah padanya, dan gigitlah to dengan gigi
geraham kalian (peganglah sekuat-kuatnya, Red.), serta jauhilah
perkara-perkara yang baru (dalam agama): karena sesungguhnya,
8Diriwayatkan Imam Malik dalam Al Muwaththa' 2/899; Ibnu Nashr dalam As Sunnah,
no. 68; Al Hakim 1/93; dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam komentar beliau
tentang kitab Misykatul Mashabih, no. 186.
9Riwayat Ahmad 6/9I, 163; dan Muslim 746.
7
setiap perkara yang baru (yang diada-adakan dalam agama)
adalah bid'ah. 10
Ketika menjelaskan sebab bersatunya salaf pada aqidah yang sama, Imam Ibnu
Bathuthah mengatakan,
"Generasi pertama, semuanya masih tetap pada aqidah ini. Hati
dan mazdhab mereka menyatu. Kitab Allah sebagai jaminan yang
memelihara keutuhan mereka. Sunnah Rasulullah sebagai pedoman.
Mereka tidak menuruti pendapat atau rasio mereka, (dan) tidak
menyandarkan pemahamannya kepada hawa nafsu.
Kondisi umat pada saat itu terus demikian. Hati-hati mereka
terpelihara oleh penjagaan Allah dan berkat InayahNya jiwa-jiwa
mereka terkendali dari hawa nafsu. 11
Apa yang dikatakan Ibnu Baththah itu benar; karena agama Allah itu hanya satu
(dan) tidak ada pertentangan. Allah berrman,
Kalau sekiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka
mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS An
Nisa': 82).
Adapun yang kami dakwahkan ini adalah jalan yang paling jelas, paling terang,
paling kaya (dengan dalil) dan paling sempurna. Dari Al Irbadh bin Sariyah, ia
berkata, Rasulullah bersabda,
Sesungguhnya, aku telah meninggalkan kalian di atas jalan, seperti
jalan yang sangat putih. maiamnya sama dengan siangnya. Tiada
yang menyimpang sesudahku dari jalan itu, kecuali orang (itu) akan
binasa. 12
10Hadits shahih diriwayatkan Abu Daud, no. 4607; At Tirmidzi, no. 2676; dan yang
lainnya.
11Lihat kitab Al lbanah atau Al Qadar, I.
12Riwayat Ahmad 4/126; Ibnu Majah, no. 5 dan 43; Ibnu Abi Ashim dalam kitabnya
As Sunnah, no. 48-49; Al Hakim 1/96; dan dishahihkan oleh Al Albani dalam kitab
Fi Dhalalil Jannah Fi Takhrij Sunnah.
8
Sehingga, jika ada seseorang yang berupaya untuk "menyempurnakan atau
menghiasinya" dengan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah dan tidak
pula oleh para sahabat berarti perbuatan itu hanyalah sebuah upaya untuk
menyimpangkan mereka kepada jalan-jalan kesesatan, bahkan menyimpangkan
ke lembah-lembah kebinasaan.
Inilah yang dinamakan oleh Rasulullah,
Bid'ah adalah kesesatan.
Oleh karena itu, para salafush shalih sangat mengingkari orang-orang yang
menambah-nambah dalam (masalah) agama, atau mengotori agama ini dengan
pendapat rasionya. Umar bin Khathab menuturkan,
Janganlah kalian duduk dengan orang-orang yang berpegang dengan
rasio mereka; karena sesungguhnya, mereka itu musuh Sunnah
Rasulullah. Mereka tidak mampu memelihara Sunnah. Mereka lupa
(dalam sebuah riwayat, mereka diserang) hadits-hadits Rasulullah,
sehingga mereka tidak mampu memahaminya.
Mereka ditanya tentang masalah yang tidak mereka ketahui, akan
tetapi mereka malu untuk mengapakan, "Kami tidak mengetahui,"
lalu mereka berfatwa dengan rasionya, sehingga mereka tersesat dan
menyesatkan orang banyak. Mereka tersesat dari jalan yang lurus.
Sesungguhnya Nabi kalian tidaklah diwafatkan Allah, kecuali setelah
Allah mencukupkannya dengan wahyu dari rasio. Dan seandainya
rasio itu lebih utarna daripada Sunnah, niscaya mengusap bagian
bawah kedua sepatu (khuf). itu lebih utama daripada mengusap
bagian atasnya. 13
13Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Zuamanain dalam Ushulus Sunnah, no 8; Al Lalika'i dalam
Syarh Ushulul l'tiqad, no. 201; Al Khatib Al Bagdadi dalam Faqih wal Mutafaqqih, no.
476-480; Ibnu Abdil Baar dalam Jami' Bayanul Ilmi Wa Fadluhu, no. 2001, 2003, 2005;
Ibnu Hazm dalam Al Ihkam, 4/ 42-43; Al Baihaqi dalam Al Madkhal, 312; Qiwamus
Sunnah dalam Al Hujjah, 1/205, pada sebagian sanadnya ada yang lemah dan ada pula
yang putus.
Namun demikian, sebagian sanad dapat menguatkan sebagian yang lain. Oleh karena itu,
Ibnu Qayyim mengatakan,
"Sanad-sanad ucapun Ibnu Umar ini sangat shahih." (Lihat I'lamul Muwaqi'ien,
9
Yang demikian itu, karena agama ini dibangun diatas dasar ittiba' (mengikuti
wahyu), bukan dengan ikhtira' (mengada-ada). Sedangkan rasio, biasanya
tercela; karena banyak urusan agama yang tidak bisa jangkauan oleh akal semata.
Apalagi akal manusia memiliki perbedaan dalam tnenjangkau pemahaman dan
faktor-faktor yang mempengaruhinya; meskipun terkadang pendapat itu patut
mendapatkan pujian. 14 Abdullah bin Mas'ud berkata,
Ikutilah dan jangan mengada-ada, karena sesungguhnya (ajaran
syari'at Islam ini) telah mencukupi kalian, hendaklah kalian
berpegang dengan tuntunan agama yang sediakala. 15
Abdullah bin Umar berkata,
Semua bid'ah itu adalah sesat. meskipun manusia memandangnya
baik. 16
Dan selama pembahasan kami tentang "pengaruh perbuatan bid'ah" yang
menghalangi seseorang dalam mencari jalan yang lurus, maka saya akan
menyebutkan sebuah ucapan Abdullah bin Abbas perihal masalah ini, yang
menunjukkan luasnya ilmu para sahabat.
Dari Utsman bin Hadhir, ia berkata:
Aku datang menjumpai Abdullah bin Abbas. Lalu aku berkata
kepadanya, ú

æ
J“ð

@
(berilah wasiat kepadaku); diapun berkata,
"Ya, bertaqwalah engkau kepada Allah, istiqamahlah dan
(berpeganglah pada) atsar (jejak para salaf. -pent).
1/44).
14Lihat perinciannya dalam I'lamul Muwaqi'ien, 1/63 karya Ibnu Qayyim.
15Diriwayatkan oleh Waki' dalam Az Zuhd, no. 315; Abdur Razaq, no. 20465; Abu
Khaitsamah dalam Al Ilmu, no. 45; Ahmad dalam Az Zuhd, halaman 62; Ad Darimi
1/69; lbnu Wadhdhah dalam Al Bida', no. 60; Ibnu Nashr dalam As Sunnah. no. 78
dan 85; Thabrani 9/8770 dan 8845; lbnu Baththah dulam Al Ibanah / Al Iman 168-
169, 174-175 dan Al Madkhal, no. 387-388; Al Khatib dalam Al Faqih Wal Mutafaqqih,
1/43; dan dishahihkan oleh Al Albani dalam ta'liq-nya atas kitab Al Ilmu, karya Abu
Khaitsamah.
16Ibnu Nashr dalam As Sunnah, 82; Al Lalika'i dalam Syarh Ushulul I'tiqad, no. 126; Al
Baihaqi dalam Al Madkhal, no. 191, dan sanadnya shahih.
10
Ikutilah, dan jangan mengada-ada dalam urusan agama.
17
Cobalah anda perhatikan ucapan ini. Dia memadukan dua hal:
1. Taqwa kepada Allah, yang maknanya sama dengan keikhlasan. Sebab
ia dipadukan dengan perintah untuk berittiba' (perintah untuk mengikuti
tuntunan Nabi, pent.).
2. Al ittiba', yang maknanya mengikuti jalan yang lurus, sebagaimana telah
dijelaskan di atas.
Selanjutnya, beliau mengingatkan agar waspada terhadap yang bertolak belakang
dengan kedua hal di atas, yaitu bid'ah. Demikianlah mayoritas ucapan para salaf,
meskipun singkat, namun selalu luas cakupannya dan membentengi (seseorang).
Merupakan perangai Salafush Shalih, mereka selalu bersikap tegas dan
keras terhadap orang yang mencari-cari ucapan manusia (para tokoh) untuk
menandingi hukum Rasulullah, setinggi apapun kedudukan dan martabat tokohtokoh
tersebut.
Tidak diragukan, bahwasanya beradab dan memelihara kesopanan terhadap
para ulama', mencintai dan mendahulukan mereka atas lainnya, serta tudingan
seseorang terhadap rasionya jika disejajarkan dengan pendapat-pendapat para
ulama; semua itu perkara yang amat penting.
Namun demikian, hal tersebut merupakan persoalan lain. Sedangkan
mendahulukan wahyu (Al Qur'an dan As Sunnah) setelah jelas permasalahannya,
juga merupakan perkara lain.
Urwah berkata kepada Ibnu Abbas,
"Celaka engkau. Engkau telah menyebatkan manusia,
karena memerintahkan untuk melakukan ibadah umrah
pada sepuluh hari (pertama bulan Dzul HWah), padahal
tiada umrah pada hari-hari itu."
17Diriwayatkan Ad Darimi, I/53; lbnu Wadhdah dalam Al Bida', no. 61; lbnu Nashr, no.
83; lbnu Baththah dalam Al lbanah, no. 200 dan 206; Al Khatib dalam Al Faqih Wal
Mutafaqqih, 1/173, dari dua jalan yang saling menguatkan.
11
Maka Ibnu Abbas berkata, "Wahai Uray (Nama tasghir(kecil) Urwah
bin Zubair. Wallahu a'lam, (pent).) Tanyakanlah kepada ibumu."
Urwah berkata,
"Bahwasanya Abu Bakar dan Umar tidak pernah mengatakan
(berpendapat) seperti itu, padahal mereka benarbenar
lebih mengetahui dan lebih mengikuti Rasulullah
daripada engkau."
Maka dijawab oleh Ibnu Abbas,
Dari sinilah kalian didatangi. Kami membawakan
kepadamu (perkataan) Rasulullah, dan kamu membawakan
(perkataan) Abu Bakar dan Umar.
Dalam riwayat lain. Ibnu Abbas berkata kepadanya,
Celaka engkau. Apakah mereka berdua (Abu Bakar dan
Umar, pent), lebih engkau dahulukan ataukah yang tertulis
dalam Kitab Allah dan disunahkan oleh Rasulullah bagi
sahabat dan umatnya?
Dalam riwayat lain, ia bertutur,
Keithatannya mereka akan dibinasakan, aku katakan "Nabs berkata"
sedang mereka berkata Abu Bakar dan Umar telah melarangnya". 18
Setelah membawakan ucapan Ibnu Abbas di atas, Syaikh Abdurrahman bin
Hasan mengatakan,
"Dalam ucapan Ibnu Abbas terdapat isyarat yang mcnunjukkan,
bahwa seseorang yang telah sampai padanya dalil, lalu tidak
mengambilnya (tidak mengamalkannya) karena bertaklid kepada
imamnya, maka orang itu wajib diingkari dengan keras karena
sikapnya yang menyelisihi dalil." 19
18Diriwayatkan lshaq bin Rahawi (Rahwiyah), sebagaimana dalam kitah Al Muthallibul
'Aliyah. no. 1306; Ibnu Abi Syaibah, 4/103, dan dari jalurnya dikeluarkan oleh
Thabrani; Al Khatib dalam Al Faqih Wal Mutafaqqih, 379 - 380; Ibnu Abdil Baar
dalam Jami'ihi, no. 2378 dan 2381; dan dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Al
Muthalib; dan dihasankan oleh Al Haitsami dalam Al Mujma', 3/234; juga oleh Ibnu
Muih dalam Al Adab Asy Syar'iyyah, 2/66.
19Lihat pada Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, halaman 338.
12
Beliau juga mengatakan,
"Kemungkaran ini, (Yang beliau maksud dengan "kemungkaran",
yaitu mengesampingkan dalil hanya dikarenakan taqlid kepada imam
(madzab)nya, Pent.) telah merebak luas terutama dari mereka yang
menisbatkan diri kepada ilmu.
Mereka telah menancapkan jerat-jerat dalam menghalangi (manusia) dari
mengambil Al Qur'an dan As Sunnah; menghalangi mereka dari mengikuti
Rasulullah dan menjunjung tinggi perintah serta larangannya."
Diantara ucapan mereka,
"tidak boleh berdalil dengan Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah,
kecuali seorang mujtahid, sedangkan ijtihad telah terputus."
Ada juga yang mengatakan,
"orang yang aku taklidi (ikuti), lebih mengetahui daripada kamu
tentang hadits, nasikh dan mansukhnya"
serta ucapan-ucapan serupa dengan tujuan akhirnya untuk meninggalkan ittiba'
(mengikuti) Rasulullah, yang tidak pernah berbicara karena terdorong hawa
nafsu, lalu (mereka) bersandar kepada ucapan orangorang yang bisa saja berbuat
kesalahan.
Ada juga diantara imam yang menyelisihi dan mencegah dari perkataan
Rasulullah dengan berdalih
"tiada seorang ulama pun, kecuali yang dimilikinya hanyalah sebagian
ilmu, dan tidak semua (dikuasainya)".
Maka wajib bagi setiap mukallaf (orang yang telah terkena beban syari'at),
jika telah sampai kepadanya dalil Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah dan telah
dipahaminya, untuk berhenti padanya dan mengamalkannya,meskipun ada yang
menyelisihinya, sebagaimana rman Allah,
Ikutilah apa yang diturunkan kepada kamu sekaltart dari Rabb-mu
dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya.
Arnat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (QS
Al A'raf: 3).
13
FirmanNya
Dan apakah tidak cukup bagi mereka, bahwasannya Kami telah
menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) sedang dia
dibacakan kepada mereka. Sesungguhnya di dalam (Al Qur'an)
itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bugs orang-orang
yang beriman. (QS Al Ankabut: 51).
Dan di depan telah disampaikan perihal ijma' (kesepakatan) para ulama' atas
masalah yang kami sampaikan ini, serta keterangan, bahwa mugallid (orang yang
taklid) tidak termasuk orang-orang yang berilmu. Demikian pula Abu Umar bin
Abdil Barr dan ulama' lainnya, telah menceritakan ijma' atas masalah ini. 20
Pengagungan kaum salaf terhadap Sunnah Rasulullah telah sampai pada
tingkatan menghunuskan pedang kepada orang yang menolak hadits Rasulullah,
sebagaimana dilakukan oleh Imam Sya'i.
Beliau telah mengadu kepada Al Qadhi (pemimpin mahkamah
syari'at) Abul Bakhturi perihal Bisyir Al Marisi. 21 Beliau
berkata,"Aku berdialog dengan Al Marisi tentang mengundi, 22dia
berkata, "Wahai Abu Abdillah, Al Qur'an (mengundi) itu Judi,"
maka kudatangi Abul Bakhturi, lalu kukatakan kepadanya,"Aku
mendengar Al Marisi berkata, mengundi itu Judi,"
Abul Bakhturi menjawab, "Wahai Abu Abdillah. ajukan seorang
saksi lagi. Aku akan membunuhnya." Dalam riwayat lain ida
20Lihat Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, halaman 339- 340.
21Bisyir bin Ghiyats Al Marisi, seorang ahli kalam yang keluar dari ketaqwaan dan sikap
wara'. Dia berakidah Jahmiyah (golongan yang mengingkari dan mena'kan sifat-sifat
Allah). Dia menyatakan, bahwa Al Qur'an adalah makhluk ciptaan Allah.
Oleh sebab itu, dikarkan oleh sejumlah ulama', seperti: Qutaibah bin Sa'id dan yang
lainnya, meninggal tahun 218 H. Lihat SiyarA'lamin Nubala', 10 / 199, (Pent).
22Hal ini mengacu kepada hadits Imran bin Husain,
Bahwasanya seorang lelaki membebaskan enam budaknya ketika ia dihampiri
kematian, ia tidak memiliki harta selain mereka, maka Rasulullah memanggil
mereka dan membagi menjadi tiga bagian, lalu beliau mengundi diantara mereka,
kemudian beliau memerdekakan dua orang dan yang empat tetap sebagai budak
dan beliau mengeluarkan kata-kata yang keras terhadap orang. (HR Muslim,
1668).
14
berkata,"Ajukan seorang saksi lagi, niscaya akan kuangkatnya pada
sebatang kayu, lalu kusalibnya." 23
23Diriwayatkan Al Khalal dalam As Sunnah, 1735; Al Khatib dalam Tarikh Al Baghdad,
7/60, dan sanadnya shahih. Orang yang mengambil suatu perkara atau mengerjakan
suatu amalan tanpa mengetahui sumber dalilnya.
15

Update Download

  • Tiada Link

    Harap maaf. Tiada update download yang terbaru. Ada sapa2 nak sumbangkan benda untuk didownload?

  • Tiada Link

    Harap maaf. Tiada update download yang terbaru. Ada sapa2 nak sumbangkan benda untuk didownload?

  • Tiada Link

    Harap maaf. Tiada update download yang terbaru. Ada sapa2 nak sumbangkan benda untuk didownload?

  • Tiada Link

    Harap maaf. Tiada update download yang terbaru. Ada sapa2 nak sumbangkan benda untuk didownload?