-->

Thursday, July 30, 2009

Omayyah Joha, Kisah Cinta Isteri dari Dua Syahid Gaza
Mengucapkan selamat tinggal dengan lukisan yang mengalirkan air mata darah untuk suami pertama dan lilin yang menyinari gelapnya blokade untuk suami kedua.

Aminah Ziyaroh/majalah filistin muslimah


Berapa banyak perpisahan begitu sulit bagi seseorang. Apalagi jika berpisah dengan orang yang sangat dicintai. Dan lebih menyakitkan bila perpisahan itu terjadi dengan orang yang selama ini menyertainya dalam perjuangan. Akan tetapi apa yang terjadi pada Omayyah Joha lebih pahit dari itu. Ia kehilangan suaminya, As-Syahid Romi Saad dan setelah itu ia juga harus kehilangan suami keduanya, As-Syahid Wail Uqailan.



Namun perpisahan dengan dua orang yang sangat dicintainya tidak meruntuhkan ketegaran dari wanita agung Palestina ini yang menggambarkan keteguhan jiwa dan kesabaranya dalam menghadapi cobaan dari yang Maha Kuasa.




Teman Hidup dan Jihad

Pena serasa tak berdaya untuk menorehkan sosok wanita Palestina dengan segala kesabaran dan perjuanganya. Ia ditinggalkan dua orang terkasih dalam hidupnya.

Kunjungan penulis ke rumahnya tadinya untuk memberikan do’a ta’ziyah pada hari kedua gugurnya Wail Uqailan. Namun penulis dikagetkan dengan sosok yang begitu tegar bagaikan gunung Palestina. Ia menyambut semua yang datang ke rumahnya dengan senyuman yang ramah. Ia mulai bercerita tentang suaminya sekaligus temanya, Wail Uqailan, kepada semua yang hadir.

Ia mengatakan, "Wail adalah seorang laki-laki yang agung. Dalam arti, aku tak pernah mendapatinya mengeluh. Walau sakit yang dideritanya sangat hebat terutama pada lambungnya yang sudah dideritanya sejak beberapa bulan. Ia senantiasa menyembunyikannya dariku. Ia selalu menampakan kekuatanya di depanku. Ia lalui kehidupannya secara normal. Seseorangpan tidak merasakan ada kelainan. Dulunya ia sering berangkat berjihad dan tidak pernah absen. Joha berhenti sejenak ia berusaha menahan air matanya, namun ternyata tumpah juga.

Ia melanjutkan, "Aku belum pernah melihat Wail menangis. Ia seorang laki-laki yang langka di dalam masyarakat ini. Ia tangguh dan berwibawa, selalu disukai dimanapun ia berada." Joha teringat suatu ketika Wail menangis. Yaitu ketika pasukan Zionis membunuh saudara kandungnya, Wail Muhammad Abdul Qadir Uqailan. Ketika ia mengusung jenazahnya, saat itulah Wail menangis. Wail juga pernah menangis ketika ia berada di atas tempat tidurnya, ketika ia teringat teman-temanya yang meninggal syahid. Sering kali ia menginginkan untuk meninggal sebagai syuhada, tidak meninggal di tempat tidurnya.



Janji Bulan Mei

Sesaat Joha terhenti sejenak. Ia menyambut kedatangan sejumlah tamu, dan tampak ia begitu tegar seraya mengucap puji Syukur pada Allah SWT atas apa yang menimpa dirinya.

Ia berkata, “Seolah aku teringat pada janji bulan Mei. Ketika Romi Saad meninggal syahid pada bulan tersebut tahun 2003 yang lalu, di usia 28 tahun. Darinya aku dikarunia seorang putri bernama Nur yang baru berumur sembilan bulan. Adapun Wail ia meninggal syahid pada 3 Mei 2009 kemarin, di usia 32 tahun. Aku sangat berharap dikarunia anak dari Wail, namun ternyata Allah belum berkenan.

Wail dan Romi adalah dua shahabat bahkan dua saudara yang selalu bersama, makan bersama, tidur bersama, serta berjihad bersama-sama. Keduanya berjuang di barisan perlawanan Brigade Izzuddin Al-Qossam.



Sejumlah usaha berakhir dengan kegagalan


Kemudian ia memutar wajahnya seolah mencari orang yang menyertainya, lalu mengulas senyum di wajahnya. Ia melanjutkan ceritanya, Aku hidup bersama Wail selama empat tahun, hari itu adalah hari-hari terindah dalam hidupku. Kami saling menghormati satu sama lain. Ia sering membantuku dalam menemukan ide-ide bagi lukisanku, terutama lukisan untuk suami pertamaku, Romi Saad. Kuas lukisku seolah menggambarkan penderitaan rakyat. Dulu Romi menyarankan agar lukisan-lukisanku ini disertakan gambar kunci, untuk memberikan simbol hak kembali Palestina. Hal yang sama ditegaskan Wail. Aku merasakan antara Romi dan Wail tidak ada perbedaan. Keduanya selalu sama dalam hal ide dan pemilihan judul. Aku bersyukur kepada Allah ta'ala atas limpahan nikmat untuk selalu bersabar dan tetap tegar dalam menghadapi semua ujian yang menyebabkan hati siapapun hancur. Akan tetapi alhamdulillah aku dapat menanggung semua ini. Aku kembali pada kebiasaan semula menorehkan kuasku pada kanvas untuk melukiskan perjuangan, tantangan serta blokade.

Joha kemudian menceritakan peristiwa syahidnya Wail. “Sebulan sebelumnya, Wail menderita pecah lambungnya yang menyebabkan ia dirawat di rumah sakit Al-Syifa, untuk dilakukan operasi bedah secepatnya. Namun akibat blokade Zionis terhadap Gaza dan ketiadaan alat-alat pembedahan, ia dirujuk untuk berobat ke luar Gaza. Tetapi mimpi untuk dapat berobat ke luar negeri kandas di depan gerbang Rafah. Wail dilarang keluar Gaza dengan berbagai alasan. Memang ada sejumlah mediator dari sejumlah negara Arab yang bisa mengantarkan Wail untuk dapat berobat ke luar Gaza. Tetapi aku terlambat membuat visa masuk, hingga akhirnya suamiku meninggal sebelum aku menyelesaikan persyaratannya. Suamiku tergolek di rumah sakit selama sebulan berjuang melawan penyakitnya hingga Allah menjemput nyawanya.



Tentang sakitnya Wail

Sahabat-sahabat Wail maupun orang-orang terkasih Omayyah tidak mengetahui tentang sakitnya Wail, kecuali melalui tulisanku yang berjudul, “Ketika Para Lelaki Menangis”. Dalam Tulisan itu, aku bercerita tentang sakitnya suamiku yang terluka. “Peganglah tanganku kuat-kuat”, katanya sejenak. Dan mengalirlah air matanya melalui kedua pipinya. Ia melanjutkan, “Selama hidupku dengan Wail, aku tak pernah melihatnya menangis, kecuali dua kali. Pertama, saat adiknya Muhmmad Abdul Qodir meninggal syahid dan ketika ia menyebutkan nama-nama yang meninggal syahid di Gaza dalam perang Zionis kemarin. Ia pernah mengatakan, “Aku sangat rindu untuk berjuang di garda terdepan, sebagaimana dulu”. Akupun menjawab, "Tak ragu lagi, kau akan kembali, sayangku !. Engkau akan bertempur melawan musuhmu dengan senjatamu. Dan engkau akan bertemu dengan Allah setelah engkau berumur panjang dengan sebaik-baik amal, insya Allah. Aku tidak akan mau menikah kecuali dengan mujahid fi sablillah”, ungkapku. Dengan suara pelan ia bertanya, “Apa yang akan kau lukis besok ?”, aku akan melukis tentang berita kembalinya para juru runding dialog dan rekonsiliasi nasional dari Kairo. Ia diam, lalu memegang tanganku, dan aku menutupkan matanya, lalu ia tertidur.



Tangisan untuk Wail dan Romi


Di hari ketiga syahidnya Romi Saad, suami pertamanya, Joha telah menggambar lukisan yang ditunggu-tunggu semua orang. Ia melukis foto suaminya Romi yang berada di kedua kelopak matanya yang mengeluarkan air mata darah. Air mata itu jatuh dan membentuk gambar hati. Sementara pada hari ketujuh syahidnya Wail, ia menggambar dirinya sedang berjalan menenteng senjata kuas. Di tangan kanannya membawa lilin yang bertuliskan Wail yang menyinari gelapnya blokade dengan cahaya cinta. (asy)

Thursday, July 23, 2009

Antara Michael Jackson & Syahidah Marwa al-Sharbini
Saya sedih, bukan karena kematian MJ yang dipuja jutaan orang di dunia. Tapi saya sedih, karena pada saat yang sama, berlangsung perkebumian seorang muslimah yang Insya Allah menjadi seorang syahidah karena mempertahankan jilbabnya.

Marwa Al-Sharbini, seorang ibu satu anak yang sedang mengandung tiga bulan, syahid akibat ditikam sebanyak 18 kali oleh seorang pemuda Jerman keturunan Rusia yang anti-Islam dan anti-Muslim. Tapi berita ini, sama sekali tidak saya temukan di tv-tv kita , negara yang majaroti penduduknya Muslim, bahkan mungkin, tak banyak dari kita yang tahu akan peristiwa yang menimpa Marwa Al-Sharbini.







Ribuan orang di Mesir yang mengantar jenazah Marwa Al-Sharbini ke tempat istirihatnya yang terakhir, memang mungkin banyak orang yang menangisi kepergian Michael Jackson. Marwa hanya seorang ibu dan bukan superstar seperti MJ. Tapi kepergian Marwa Al-Sharbini adalah lambang jihad seorang muslim. Marwa Al- Sharbini mempertahankan harga dirinya sebagai seorang Muslimah yang mematuhi ajaran agamanya meski pun untuk itu ia kehilangan nyawanya.

Marwa Al-Sharbini ditikam di ruang sidang kota Dresden , Jerman saat akan memberikan kesaksian atas ancaman terhadapnya . Ia mengadukan sorang pemuda Jerman bernama Alex W yang kerap menyebutnya “teroris” hanya karena ia mengenakan jilbab. Dalam suatu kesempatan, pemuda itu bahkan pernah menyerang Marwa dan berusaha melepas jilbab Muslimah asal Mesir itu. Di persidangan itulah, Alex kembali menyerang Marwa, kali ini ia menikam Marwa Al-Sharbini berkali-kali. Suami Marwa yang berusaha melindungi isterinya, malah terkena tembakan pehak berkuasa keamanan pengadilan yang berdalih tak sengaja menembak suami Marwa yang kini dalam kondisi kritis di rumah sakit Dresden .



Peristiwa ini sepi dari pemberitaan di media massa Jerman dan mungkin dari pemberitaan media massa asing dunia karena yang menjadi korban adalah seorang muslimah yang dibunuh oleh orang Barat yang anti-Islam dan anti-Muslim. Situasinya mungkin akan berbeza jika yang menjadi korban adalah satu orang Jerman atau orang Barat yang dibunuh oleh seorang ektrimis Islam. Beritanya dipastikan akan gempar dan mendunia.

Itulah sebabnya, mengapa di tv-tv kita cuma sebuk dengan pemberitaan pemakaman Michael Jackson yang mengharu biru itu. Tak ada berita pemakaman Syahidah Marwa Al-Sharbini yang mendapat sebutan “Pahlwan Jilbab”. Tak ada protes dunia Islam atas kematiannya. Tak ada tangisan kaum muslimin dunia untuknya. Tapi tak mengapa Marwa Al-Sharbini , karena engkau akan mendapatkan tempat yang paling mulia di sisiNya ALLAH SWT .. Seiring doa dari orang-orang yang mencintaimu. Selamat jalan saudariku, maafkan kami jika kurang peduli …

Sunday, July 19, 2009

MANEK URAI : EKSKLUSIF - VINCENT LEE AJAK SOKONG PERJUANGAN ISLAM
oleh MEDIA BYPASS rakan Kelantan

Pengerusi Kelab Penyokong Pas Pusat (Kaum Cina), Vincent Lee menyifatkan perjuangan Pas yang berlandaskan Islam merupakan wadah terbaik merealisasikan pentadbiran jujur, ikhlas dan adil untuk seluruh umat termasuk bukan Islam.

Oleh demikian, katanya orang Islam sendiri wajar berjuang seiringan dengan Pas bagi memastikan rakyat negara ini memdapat layanan dan pembelaan yang sepatutnya tanpa membeza-bezakan kaum.


"Perjuangan Pas berlandaskan tuntutan Islam jelas terbukti mendatangkan kebaikan kepada semua kaum, sebab itulah Pas beroleh sokongan luar biasa pada Pilihan Raya Umum lalu.

"Saya merayu kepada orang Melayu (Islam), jika bukan Islam sudah menaruh keyakinan sedemikian rupa terhadap perjuangan Pas, kenapa anda (orang Melayu) sendiri tidak ikut dan menyokong sebuah parti yang menjadikan ajaran Islam sebagai landas perjuangannya?

"Oleh itu, saya harap pengundi-pengundi di Manik Urai sedar bahawa inilah masa untuk mereka memberi sokongan kepada Pas yang selama ini tidak pernah berhenti memperjuangan keadilan untuk rakyat dan memartabatkan Islam sebagai panduan hidup ke arah kemuliaan dan perpaduan semua kaum," katanya kepada MEDIA BYPASS ketika ditemui di Manik Urai semalam.

Vincent Lee yang juga Pembantu Khas kepada YB Dr Lo'Lo (Ahli Parlimen Titiwangsa)berkata, pelbagai isu membabitkan pemimpin BN telah membangkitkan rasa muak rakyat, mereka merungut kerana hak rakyat tidak dibela sepenuhnya kerana sikap sesetengah pemimpin lebih mengutamakan kepentingan diri.


Menurutnya, rakyat khususnya di manik Urai patut buat perhitungan dengan pengkhianat bangsa seperti itu dengan menggunakan kuasa undi memberikan kemenangan kepada calon Pas.

"Kita ada undi di tangan, kitalah yang berhak tentukan siapa pemimpin yang akan mewakili dan membela nasib kita kerana rakyatlah yang membayar gaji mereka. Jadi, jangan terpengaruh dengan umpan gula-gula BN kerana mereka datang hanya pada masa pilihan raya sahaja.

"Pengundi Manik Urai sudah kenal dengan permainan BN yang hantar bermacam peruntukan semasa pilihan raya, kita kena tetapkan hati untuk tidak tertipu, pastikan undi hanya untuk memperkukuhkan kerajaan Kelantan yang membangun bersama Islam," katanya.


copy & paste http://pasnationalunity.blogspot.com/

Friday, July 17, 2009

Mikaeel (Murder) Conspiracy
Just got this article from my email:

Michael Jackson (MJ) was known as the most loving person in the world. He gave up most of his assets for charity and all his life, he fought for equality of the African Americans, AIDS victims, Against Drug Abuse, Against Abortion, Against Child Labor and secretly channelled his properties for the hungry children of the world. However, he wasn't peace at heart. He always think of himself as a child trapped inside a man's body. Being Peter Pan is all his dream, never to grow up, forever a child. That inspires him to build Neverland - a heaven for children. Children of all ages and races are welcomed to Neverland. MJ had so much love to give.




However, he made a mistake which he didn't know of the consequences. He saw the peaceful life his brother, Jermaine (Muhammad Abdul Aziz) had as a Muslim - true, Jermaine faced so much pressure that he moved to Bahrain.

In 1989, MJ made a press conference which shocked the world, "I have seen the Islam in the life of my brother, I have read the books about Islam. And I'd love to someday feel the calmness and peace of Islam...."

Since that, MJ's life was never the same again.
He was accused of so many accusations against child molestation. MJ was not someone who can deal with much pressure as he is a 'delicate child'. All the extortion and black mail followed after that. Everything he did was being seen as wrong in the eyes of the Media. All these are to influence his fans to hate MJ. If he is hated, then he would not be influencial anymore.

For several years, he stayed in England. Getting motivation from a long time friend, Cat Stevens, who had converted into Islam - named Yusuf Islam. From him, MJ learnt how Yusuf had survived being Muslim. He made friends with a song writer, Zain Bhikha too, who wrote a song titled, "GIVE THANKS TO ALLAH", which he wanted MJ to sing whenever he is ready. GIVE THANKS TO ALLAH. You can download this song here: http://www.ziddu.com/download/5617143/MichealJackson-GiveThanksToAllah.mp3.html

Following his trial, MJ withdrew to Bahrain, where he was the special guest of sheik Abdullah bin Hamad Al Khalifa, the son of Bahrain’s king. It was then that Michael began to give conversion more “serious thought.”
MJ stayed in Bahrain for approximately 3 years. He studied Islam, the prayers and learn to read the Koran (al-Quran).

Finally, he came back to Los Angeles and in November 2008 MJ had formally converted to Islam in a ceremony at a close friend’s house in Los Angeles.
He perform Haj with the King of Bahrain and son on December 2008.

He had a hidden agenda when he wanted to make a final comeback. He annouced in a press conference on March 2009, "This will be my final concert. I'll see you all in July...."

He planned that during his concert, he would announce that this is the FINAL concert as he wouldn't be performing anymore. He will declare that he is a Muslim and will only sing with Yusuf Islam and Friends.
At the end of the concert, he will be singing the song, "GIVE THANKS TO ALLAH" with Yusuf Islam. That is the reason why he chose London as his final concert venue instead of the USA. It was because he thought he could escape the USA's extortion, and that he could perform with yusuf Islam who is in England.

At 12.30am, 25th June 2009, he hugged his production manager and said, "After reherasing for 2 months, I am finally ready for the concert..."
Before leaving to sleep, he waved his dancers, "It was a good night everyone. I'll see you all tomorrow..."
The next thing... He was pronouced dead at 2.26am....

When 911 was called, there are so much questions asked. It is as if they didn't know who MJ is and where he lived. The questions asked are more towards to delay time.
The hospital said the autopsy result can only be obtained after 2 months - very illogical as even the worst African technology could obtain the result in less than 2 weeks.

MJ's family members opt for second private autopsy as they started to feel something fishy is going on. The result came out in about 4 days - MJ was drugged with high dosage of anaesthetic - drug that brings about a reversible loss of consciousness, if used to much could stop the heart from beating.

Another result which was not aired in the media was, MJ's stomach is empty of this drug, but his blood were filled with it - same case as the death of Marilyn Monroe.
The private doctors also found many needle marks, afraid to be forced injections given to MJ on his bed.

In CNN Live after a week, Barack Obama was interviewed. And he said, "I love MJ, I grew up listening to his songs. It is a great loss, but rest assured that there is no conspiracy in his death..."
Now, why must a President made such statement before the official autopsy result came out? How would he know that there is no conspiracy without the post-mortem result? Seems like someone is afraid of his shadows.

MJ was known to the world as a person who is against drug abuse. Why must he be addicted to drug, then? If he wanted to commit suicide, why rehearse for his concert? And why will he want to see his dancers the next day?

Enough about his death. I am sure people around the world is not stupid anymore. These supreme power can fool us during the Marilyn Monroe conspiracy, Martin Luther King and Princess Diana. But in this MJ's case, they left too many loopholes for those who think...!!

MJ's family was about to give him a Muslim burial with the help of The Brotherhood of Islam. But, the CIA showed up at Neverland's door - blackmailed them that if they do so publicly, Katherine (MJ's mother) would be pull off from MJ's 3 children's custody as well as MJ's estates. Instead, they'll hire Debbie Rowe for the purpose, and the court will be in their favour. So much for democracy and fairness...

Finally, they agreed to let MJ have a Muslim Burial in Neverland. But in condition, must show to the public a Christian Memorial Service, as to prove to the world that MJ was never a Muslim.

So, Staples Centre was just a normal show. That's why the coffin was closed and sealed.

MJ was buried days earlier. The Gold Coffin was empty. They were about to bury the Coffin according to Christianity ways in Hollywood - as in their deal with the USA Government.

These happened, because the USA is afraid of the rising numbers of Muslims in the world.

(Sheikh Ha**d)
The Brotherhood of Islam
Buletin of Bahrain

Friday, July 10, 2009

Kisah perempuan miskin, lembu tua dan Gaza

Lokasi kisah benar ini berlaku di salah sebuah daerah di Yaman dan ianya terjadi dalam bulan Januari lalu.

Kisah penderitaan dan keperitan yang dilalui oleh penduduk Gaza tersebar ke seantero dunia. Semua marah, benci, kesumat dan mendidih pedih. Lebih banyak yang terasa sayu dan terharu apabila kanak-kanak kecil nan comel menjadi korban muntahan peluru dan darah membasah bumi tanpa henti.



Tragedi dasyhat ini juga sampai juga ke pengetahuan seorang perempuan tua yang hidup miskin di salah sebuah kampung di Yaman. Sama seperti orang lain, dia juga turut sedih dan pilu sehingga berjurai air mata.

Lantas suatu hari, dia berazam sedaya upaya untuk cuba membantu sekadar mampu. Kebetulan , 'harta' yang dia ada hanyalah seekor lembu tua, terlalu uzur, kurus dan sudah tidak bermaya.

ImageDengan semangat tinggi dan perasaan simpati amat sangat, dia berhajat menyedekahkan lembunya itu kepada penduduk Gaza lalu berjalan kaki dari rumah pergi ke salah sebuah masjid di Yaman sambil memegang lembu tunggal kesayangannya itu.

Kebetulan hari itu Jumaat dan para jemaah sudah mengerumuni pekarangan masjid untuk melaksanakan ibadat tersebut.

Ketika itu, betapa ramai yang memerhati dan menyorot mata melihat gelagat perempuan tua nan miskin dengan lembunya yang berada di sisi luar masjid. Ada yang mengangguk, ada yang menggeleng kepala. Tanpa kecuali ada juga yang tersenyum sinis malah terpinga-pinga melihat perempuan miskin itu setia berdiri di sisi lembunya.

Masa berlalu, jemaah masjid walaupun khusyuk mendengar khutbah imam namun sesekali memerhati dua mahkhluk tuhan itu. Perempuan dan lembu itu masih di situ tanpa ada cebis rasa malu atau segan diraut wajah.

Setelah imam turun dari mimbar, solat Jumaat kemudiaannya dilakukan, biar dibakar terik mentari dan peluh menitis dan memercik di muka, perempuan dan lembu tua itu masih lagi di situ.

Sebaik selesai sahaja semua jemaah solat dan berdoa, tiba-tiba perempuan itu dengan tergesa-gesa mengheret lembu itu betul-betul di depan pintu masjid sambil menanti dengan penuh sabar tanpa mempedulikan jemaah yang keluar. Ramai juga yang tidak berganjak dan perasaan ingin tahu, apa bakal dilakukan oleh perempuan tua itu.

Tatkala keluar imam masjid, perempuan tua itu bingkas berkata :" Wahai imam, aku telah mendengar kisah sedih penduduk di Gaza. Aku seorang yang miskin tetapi aku bersimpati dan ingin membantu. Sudilah kau terima satu-satunya lembu yang aku ada untuk dibawa ke Gaza, beri kepada penduduk di sana."

Gamam seketika. Imam kaget dengan permintaan perempuan itu namun keberatan untuk menerima. Ya, bagaimana nak membawa lembu tua itu ke Gaza, soal imam itu. Keliling-kelalang para jemaah mula bercakap-cakap. Ada yang mengatakan tindakan itu tidak munasabah apatah lagi lembu itu sudah tua dan seolah-olah tiada harga.

"Tolonglah.. bawalah lembu ini ke Gaza. Inilah saja yang aku ada. Aku ingin benar membantu mereka," ulang perempuan yang tidak dikenali itu. Imam tadi masih keberatan.Masing- masing jemaah berkata-kata dan berbisik antara satu sama lain. Semua tertumpu kepada perempuan dan lembu tuanya itu.

Mata perempuan tua yang miskin itu sudah mula berkaca dan berair namun tetap tidak berganjak dan terus merenung ke arah imam tersebut. Sunyi seketika suasana.

Tiba-tiba muncul seorang jemaah lalu bersuara mencetuskan idea:" Tak mengapalah, biar aku beli lembu perempuan ini dengan harga 10,000 riyal dan bawa wang itu kemudian sedekahkanlah kepada penduduk di Gaza.

Imam kemudiannya nampak setuju. Perempuan miskin yang sugul itu kemudian mengesat-ngesat air matanya yang sudah tumpah. Dia membisu namun seperti akur dengan pendapat jemaah itu.

Tiba-tiba bangkit pula seorang anak muda, memberi pandangan yang jauh lebih hebat lagi:"Apa kata kita rama-ramai buat tawaran tertinggi sambil bersedekah untuk beli lembu ini dan duit itu nanti diserahkan ke Gaza?"

Perempuan itu terkejut, termasuk imam itu juga. Rupa-rupanya cetusan anak muda ini diterima ramai. Kemudian dalam beberapa minit bidaan itu pun bermula dan ramai kalangan jemaah berebut-rebut menyedekahkan wang mereka untuk dikumpulkan.

Ada yang membida bermula dari 10,000 ke 30,000 riyal dan berlanjutan untuk seketika. Suasana pekarangan masjid di Yaman itu menjadi riuh, apabila jemaah membida 'bertubi-tubi' sambil bersedekah.

Akhirnya lembu tua, kurus dan tidak bermaya milik perempuan tua miskin itu dibeli dengan harga 500,000 riyal (sekitar RM500,000.00) !

Semua melalui bidaan para jemaah dan orang ramai yang simpati dengan penduduk Gaza termasuk niat suci perempuan miskin itu. Paling manis, setelah wang itu diserahkan kepada imam masjid itu, semua sepakat membuat keputusan sambil salah seorang jemaah bersuara kepada perempuan tua itu.

"Kami telah membida lembu kamu dan berjaya kumpulkan wang sejumlah 500,000 riyal untuk memiliki lembu itu.

"Akan tetapi kami telah sepakat, wang yang terkumpul tadi diserahkan kepada imam untuk disampaikan kepada penduduk Gaza dan lembu itu kami hadiahkan kembali kepada kamu," katanya sambil memerhatikan perempuan tua nan miskin itu kembali menitiskan air mata...gembira.

Tanpa diduga, Allah mentakdirkan segalanya, hajat perempuan miskin itu untuk membantu meringan beban penderitaan penduduk Palestin akhirnya tercapai dan dipermudahkan sehingga berjaya mengumpulkan wang yang banyak manakala dia masih lagi terus menyimpan satu-satunya 'harta' yang ada. Subhanallah.

Justeru, iktibarnya ialah segala niat murni yang baik sentiasa mendapat perhitungan dan ganjaran Allah apatah lagi ianya datang daripada hati kecil seorang yang miskin yang mahu membantu umat islam yang menderita akibat dizalimi rejim zionis israel biarpun diri serba payah dan serba kekurangan.- azm

Sekiranya anda bersimpati, sudilah hulurkan sumbangan,demi insan-insan yang sedang dizalimi di Palestin melalui Tabung Kemanusiaan Harakah di akaun BIMB: 14069010021298

(Kisah ini telah disusun semula daripada cerita Timbalan Mursyidul Am PAS Dato' Haron Din kepada Harakahdaily melalui kisah benar yang dipaparkan di sebuah majalah Arab)

(Sebarang kritikan dan pandangan kepada saya sila majukan ke azaminamin@yahoo. comAlamat
email ini telah dilindungi dari spam bots, anda perlukan Javascript enabled untuk melihatnya )

Update Download

  • Tiada Link

    Harap maaf. Tiada update download yang terbaru. Ada sapa2 nak sumbangkan benda untuk didownload?

  • Tiada Link

    Harap maaf. Tiada update download yang terbaru. Ada sapa2 nak sumbangkan benda untuk didownload?

  • Tiada Link

    Harap maaf. Tiada update download yang terbaru. Ada sapa2 nak sumbangkan benda untuk didownload?

  • Tiada Link

    Harap maaf. Tiada update download yang terbaru. Ada sapa2 nak sumbangkan benda untuk didownload?