-->

artikel yang agak menarik

Feb/25

akal 'veteran'..hebat x?

Monday, February 25, 2008
salam sahabat..malam ni rasa letih lak...xtau la kenapa...maybe banyak tido...huhu...rancang nak gunting rambut ari ni..tapi x potong2 gak..ishk2....bak kata kawan saya yang banyak celoteh...rambut saya dah macam cangkul...ada plak mcm tu...
Oct/10

Hargai apa yang ada

Sunday, October 10, 2010
Semalam keluar pergi jalan2 dengan kawan.. dah lama x berjalan. sebelum balik Malaysia, teringin nak kuar berjalan n kenal dengan seseorang. Alhamdulillah, dah berjalan n berkenalan..sekarang dah puas.. kepala pon dah ringan sbb 1 urusan dah selesai.
Showing posts with label kisah para ilmuan. Show all posts
Showing posts with label kisah para ilmuan. Show all posts

Tuesday, January 13, 2009

Enam Persoalan Hidup
Suatu hari, Imam Al Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya.Lalu Imam Al-Ghazali bertanya,

pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghazali menjelaskan semua jawapan itu benar.

Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)




Lalu Imam Ghazali meneruskan pertanyaan yang kedua,
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".

Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghazali menjelaskan bahwa semua jawapan yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu".

Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu.
Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.




Lalu Imam Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga,
"Apa yang paling besar di dunia ini?".

Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawapan itu benar kata Imam Ghazali.

Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu" (Al-A'Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.




Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawapan hampir benar, kata Imam Ghazali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al-Ahzab 72).

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini.

Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.




Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".

Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghazali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Solat.

Gara-gara sibuk dengan pekerjaan dan mengejar kekayaan dunia, pekerjaan kita tinggalkan solat.




Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".

Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghazali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan angkuhnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.



~ bagaimana saudara/ri sekalian...terkesankah anda dengan dialog antara Imam Gazali dengan anak muridnya...? alangkah bagusnya sekiranya jawapan anda sekali adalah..YA..tetapi bagaiman pula sekirangnya anda katakan TIDAK..?mungkinkah masalah hati kita...atau masalah hati Imam besar ini sendiri..?..yang mana menjadi rujukan sejabat umat Islam sedangkan kita, dibelenggu dosa yang menghitamkan hati dan membenakkan iman...fikir2 kanlah..

Tuesday, April 1, 2008

Ikhwanul Muslimin, Organisasi Pergerakan yang Ditakuti Kekuatan Sekular

Hampir setiap perkara dan kekerasan yang berlaku di negara-negara Islam (Arab),selalu dikaitkan dengan Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi pergerakan Islam yang lahir diMesir, sekitar tujuh dekad yang lalu. Lalu, benarkah Al-Ikhwan mengajarkan tindakan kekerasan? Dan apa hubungan Hammas dan gerakan Hasan At-Turabi di Sudan dengan organisasi Al-Ikhwan? Berikut merupakan sebuah tulisan yang membahas secara ringkas tentang Al-Ikhwan sebagai sebuah organisasi pergerakan Islam.

Ketika khilafah Islam jatuh ke tangan Bani Umaiyah pada 661 M, dengan Muawiyah bin Abi Sufyan menjadi khalifah pertama,muncul dua sikap umat dalam menghadapi kenyataan itu. Pertama, sikap menolak. Kedua, sikap menerima dengan reserve.

Sikap pertama disandarkan pada kenyataan bahwa Muamiyah mendapat kekuasaan dengan cara yang tidak sah. Di antara mereka, ada yang menolaknya dengan vokal, yang disertai dengan perancangan untuk meluruskan jalannya. Dan ada yang menolaknya dengan sikap melarikan diri kepada pengkajian masalah-masalah Islam dan menghindari hal-hal yang membawa kepada pemberontakan kepada pemerintah.

Sikap kedua adalah menerima pemerintahan Muamiyah sebagai kenyataan. Sekalipun tidak melambangkan citra Islam politik,sekurang-kurangnya ia mampu menyatukan umat Islam di bawah sebuah negara yang berdaulat. Ia juga tidak melarang umat untuk meyakini rukun iman dan menjalankan rukun Islam yang lima. Sikap kedua ini membentuk teologi Al-Murji'ah, yang seterusnya menjadi teologi Ahl Sunnah wal Jamaah, untuk membezakannya dengan teologi kaum Khawarij dan Syi'ah. Pangkat-pangkatnya selama berabad-abad diisi oleh sayap kedua dari sikap pertama, yaitu pihak yang menyibukkan diri untuk mengembangkan warisan agama dan intelektual Islam dengan menjauhi konfrontasi langsung dengan pemerintah yang berkuasa.

Aliran pertama yang bersifat vokal bahkan ikutserta dengan gerakan bawah tanah untuk menyusun kekuatan dalam rangka membentuk sebuah pemerintahan yang lebih Islamik, banyak mendapat kesulitan dari pemerintah yang berkuasa. Tokoh -tokohnya diburu dan ajarannya ditolak. Inilah bakal pergerakan Islam yang mempunyai pendukung sepanjang sejarah Islam sampai sekarang. Organisasi Al-Ikhwanul al-Muslimun -- yang biasa dkait dengan Al-Ikhwan -- adalah sebuah pewaris dari Islam pergerakan ini dengan bentuknya yang khas di zaman modern.

Hay'ah Ikhwan Al-Muslimin (Organisasi Persaudaraan Umat Islam) didirikan Sheikh Hasan Al-Banna di kota Ismailiyah (sebuah kota di pinggir Terusan Suez), Mac 1928, beberapa bulan setelah ia lulus dari Darul Ulum. Darul Ulum adalah sebuah sekolah tinggi pendidikan guru di Kairo, dan Ismailiyah adalah kota di mana ia ditempatkan oleh Department Pendidikan Mesir untuk menjadi guru di sesebuah sekolah.

Setiap hari -- selesai mengajar, ia mengunjungi warung untuk berdialog dengan masyarakat. Malam harinya, ia salat berjamaah di masjid terdekat, dan kemudian seringkali melanjutkan pembicaraannya di warung.

Pada masa-masa lapang setiap musim panas, ia menghabiskan waktu untuk pergi ke merata-rata kota dan desa di Mesir, untuk mengajar masyarakat di rumah, di atas kenderaan, di warung, atau masjid. Tubuhnya yang kekar (sekalipun dengan tubuh yang agak pendek dibanding rata-rata orang Mesir), serta penampilannya yang menarik, dan lidahnya yang fasih, memang mendokong Al-Banna untuk menjadi seorang public figure.

Dalam pertumbuhan awalnya, Al-Ikhwan lebih memusatkan usaha untuk pembentukan kepribadian masyarakat. Ini terlihat dari beberapa prinsip yang diajarkan Al-Banna yang merupakan petunjuk harian Al-Ikhwan.
Prinsip-prinsip itu antara lain berbunyi:
"Lakukanlah salat bila anda mendengar azan, bagaimana pun kondisi anda pada waktu itu. Baca Alquran, renungkan dan dengarkan, serta selalulah mengingat Allah. Jangan anda membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tak berguna."

Selanjutnya, Al-Banna juga mengatakan:

Jangan banyak bersilat lidah dalam masalah apa pun, karena itu tidak bermanfaat.

Jangan banyak bergembira dan bersantai, karena perjuangan bangsa perlu kesungguhan.

Jauhilah membicarakan keburukan orang di belakangnya.

Jangan mengejek organisasi-organisasi atau pergerakan-pergerakan dengan tidak adil.

Berusahalah untuk selalu ramah bila anda bertemu teman-teman Al-Ikhwan, sekalipun ia tidak membuat inisiatif, karena idiologi kita berdiri di atas tiang ilmu pengetahuan dan cinta kasih.

Bantulah orang lain semaksima mungkin agar ia dapat memanfaatkan waktunya, dan bila anda mempunyai projek untuk diselesaikan, maka selesaikanlah projek itu."


Prinsip-prinsip tersebut tak lain tak bukan adalah sebahagian dari prinsip-prinsip Islam, yang disimpulkan dalam bahasa sederhana agar dapat dilaksanakan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Intipatinya adalah bagaimana seorang muslim dapat menjalankan ajaran Islam secara murni dalam kehidupan modern.

Prinsip-prinsip itu dijalankan melalui jalur organisasi dari ranting, cabang, wilayah (yang tersebar di seluruh pelosok kota dan desa di Mesir), dan sampai ke pusat, yang secara organisasi selalu dievolusi dari semasa ke semasa. Di sini jelas sekali ciri pergerakan dari organisasi Al-Ikhwan.

Setelah pemantapan kepribadian,program Al-Ikhwan selanjutnya adalah pembentukan masyarakat Islam yang menjalankan syariat Islam. Bagi Al-Ikhwan, Islam adalah jalan hidup yangmerangkumi individu, masyarakat, negara, hubungan internasional dan seterusnya. Al-Banna menegaskan, "Ia (Islam -- Red) adalah sikap moral, kekuatan, kasih sayang dan keadilan. Ia adalah pengetahuan, hukum, ilmu dan pengadilan. Ia adalah harta, kekayaan, usaha dan kebutuhan. Ia adalah jihad dan dakwah atau antara dan gagasan. Ia juga akidah yang benar dan ibadah yang betul, ibarat satu syiling dengan dua wajah."

Seperti program pembentukan keperibadian, maka Al-Ikhwan juga bertekad untuk melaksanakan program sosial politik secara berperingkat. Dalam Anggaran Dasar (Nizam Asasi) Al-Ikhwan, antara lain menyebutkan: Al-Ikhwan sentiasa mengutamakan kemajuan berperingkat dalam pembangunan, usaha produktif, dan kerja sama dengan para pecinta kebaikan dan kebenaran. Al-Ikhwan tak ingin melukai sesiapa pun, sebarang agama, bangsa dan kebangsaannya.

Kegiatan Al-Ikhwan mula menarik perhatian pemerintah dan dunia luar, setelah mereka memindahkan pusat kegiatan dari Ismailiyah ke Cairo. Apalagi setelah Al-Banna mengirim surat kepada raja Mesir, Faruq (1936) dan sejumlah menteri kabinet, agar melaksanakan syariat Islam dan meninggalkan cara hidup yang tidak Islamik.

Situasi di Mesir pada 1930-1940-an, seperti kejatuhan moral, penciplakan budaya asing, pemerintah yang tidak tegas, dominasi Inggeris yang begitu kuat dalam negeri, dominasi perusahaan -perusahaan asing, dan lain-lain, telah bersaham dalam membentuk sikap militansi Al-Ikhwan. Sebagai gerakan dan idiologi, sikap Al-Ikhwan ini berhubungan erat dengan krisis intelektual, sosial, ekonomi dan politik yang melanda Mesir sejak abad ke-19.

Krisis-krisis ini sebagiannya adalah hasil dari berbagai kebijakan yang ditempuh oleh para penguasa Mesir sebelum ini, dalam bidang pendidikan, hukum dan politik melalui suatu proses pembaratan. Negara sejak abad 19 mengirim misi pendidikan ke luar negeri dan mengundang perancang dan tenaga ahli Barat ke dalam negeri. Sistem pendidikan Barat yang sekuler baransur-ansur membuang pendidikan tradisional, dan hukum sekular Barat menggantikan hukum syariat yang telah berlaku selama berabad-abad.

Politik pemerintah semakin cenderung untuk memelihara kepentingan Barat. Terusan Suez sebagai jalan perhubungan penting antara Barat dan Timur berada di tangan asing. Di Palestin kekuatan Zionis internasional semakin bersinar untuk mendirikan negara nasional Yahudi yang mengancam umat Islam dan bangsa Arab. Sementara itu, para penguasa Arab lebih banyak membuat tindakan yang dapat mempertahankan kepentingan mereka daripada kepentingan rakyat. Di pihak lain, Al-Azhar sebagai lembaga keagamaan tertua di dunia Islam bersikap melempem dan sulit untuk dijadikan panutan bagi sebuah pembaruan yang sejalan dengan semangat Islam.

Sebagai organisasi pergerakan, Al-Ikhwan enggan membiarkan kedudukan yang tidak sejalan dengan tuntutan Islam itu berjalan terus. Melalui media yang dimilikinya (surat kabar, majalah, pamplet, surat terbuka, pidato, khutbah, rapat umum dan lain-lain), organisasi ini memberikan imbauannya kepada rakyat dan pemerintah agar mengambil garis Islam dalam semua kebijakan.

Kemudian pemerintah melihat Al-Ikhwan sebagai ancaman, bukan semata karena imbauan kebaikan itu, tapi lebih karena sebagai organiasasi masa, Al-Ikhwan dapat melaksanakan kehendaknya. Usaha yang dilakukannya bukan hanya bidang penerangan, pendidikan dan kebajikan semata-mata, tetapi juga mencakupi usaha -usaha ekonomi yang menjadi urat nadi organisasi, latihan bela diri dan bahkan pasukan tentera. Dalam perang melawan sekutu Inggeris-Israel pada tahun 1948, misalnya, pasukan sukarelawan Al-Ikhwan terbukti turut dalam mematahkan kekuatan musuh.

Sekitar Perang Dunia II, telah terjadi hubungan turun naik antara pemerintah dan Al-Ikhwan. Situasi genting yang terjadi di Mesir akibat perang, antara lain pembunuhan terhadap tokoh -tokoh politik (termasuk pembunuhan Perdana Menteri An-Nuqrasyi), membuat keadaan semakin sulit bagi Al-Ikhwan. Tokoh-tokoh Al-Ikhwan ditangkap, aset organisasi disita, dan berbagai media massa mereka dimusnahkan. Kejadian seperti itu terjadi berulang kali. Dari tahun 1940 sampai Desember 1948, pergerakan ini dilarang sekeras-kerasnya. Selanjutnya pada malam hari tanggal 12 Februari 1949, Al-Banna ditembak mati oleh orang yang tak dikenal sewaktu ia sedang duduk di keretanya di depan gedung Syubban Al-Muslimin di Kairo.

Al-Banna meninggal, tetapi gagasan dan karya organisasinya diteruskan oleh generasi seterusnya. Tak lama setelah pemergian Al-Banna, kepemimpinan Al-Ikhwan digantikan oleh Hasan Al-Hudhaibi, seorang bekas jaksa. Menjelang Revolusi tahun 1952, sebahagian kekayaan Al-Ikhwan mulai dikembalikan dan kebebasan mereka dipulihkan.

Pada mulanya, Jamal Abd Nasir dan Anwar Sadat sendiri adalah termasuk aktivis Al-Ikhwan. Namun kemesraan antara Al-Ikhwan dan Nasir serta Sadat segera berakhir, tak lama setelah yang pertama menjadi presiden. Di bawah pemerintahan Jamal Abdul Nasir, Al-Ikhwan mengalami penderitaan kembali. Para pengikutnya dipenjarakan dan beberapa di antaranya bahkan ada yang digantung. Buku-buku dan penerbitan mereka dilarang terbit.

Akibat dari keadaan yang kurang menguntungkan itu, beberapa tokoh Al-Ikhwan banyak yang terpaksa lari ke luar negeri. Ada yang ke negara-negara Arab dan lainnya ke Eropah dan Amerika. Namun di mana pun mereka berada, mereka tidak melupakan perjuangan organisasi dan selalu melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan keadaan yang ada.

Dari situ, meskipun di dalam negeri (Mesir) Al-Ikhwan banyak mengalami hambatan, gagasan Al-Ikhwan tetap berkembang. Apatah lagi banyak di kalangan idiolog-idiolog Al-Ikhwan yang berbakat menulis dalam pelbagai bidang. Misalnya 'Audah, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Muhammad Al-Ghazali, Abdullah As-Samman, As-Siba'i, Mushthafa Ramadan, Fathi Yakan dan lain-lain.

Kemudian muncul dialog generasi kedua yang lebih berbentuk akademik seperti Al-Qardhawi, 'Isa 'Abduh, Al-Jerisyi, At-Turabi, Asy-Syalabi dan seterusnya. Karya-karya mereka banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, termasuk bahasa Malaysia. Dengan demikian, Al-Ikhwan telah memberikan sahamnya untuk sebuah pemahaman Islam bergerak di seluruh dunia.

Di beberapa negara Arab pada waktu ini, seperti Sudan, Jordan, dan Palestina, kegiatan politis Islam Al-Ikhwan kelihatan menonjol. Di Sudan, berkat jasa Dr Hasan At-Turabi, idiologi terkenal Al-Ikhwan, beberapa program Islamisasi telah dapat dilaksanakan dalam negara, sekalipun mendapat tekanan yang berat dari negara-negara Barat, dan bahkan Mesir sendiri sebagai negara tetangga dan tanah kelahiran Al-Banna.

Di Jordan beberapa wakil Al-Ikhwan dapat duduk dalam parlemen dan beberapa posisi penting dalam pemerintahan. Di Palestin, di balik gerakan Al-Hammas yang menentang negara sekular yang ingin didirikan oleh Arafat juga dikhabarkan bahawasanya disana terdapat aktivis -aktivis Al-Ikhwan.

Hay'ah Ikhwan Al-Muslimin sebenarnya tidak lain tidak bukan merupakan sebuah organisasi pergerakan Islam yang berusaha menerapkan cara-cara hidup yang Islamik, terutama kehidupan sosial-politik, melalui sebuah program yang selalu direvisi dari waktu ke waktu. Karena dominasi kebudayaan sekular yang begitu besar di dunia Islam, termasuk sekularisasi dalam pemerintahan, organisasi ini sering berada dalam konflik dengan kekuatan-kekuatan sekular yang ada dalam masyarakat. Teologi mereka yang tidak memisahkan antara ijtihad dan jihad, agama dan politik, membuat nama mereka sering dihubungkan kepada aksi politik dan tindakan kekerasan, baik secara sah atau tidak.

(sumbangan : Rifyal Ka'bah MA, pengamat politik Islam )
(susuan atur & evolusi ilmu : YusriZahir)

Monday, March 10, 2008

AL-GHAZALI: PERINTIS FALSAFAH ISLAM
AL-GHAZALI: PERINTIS FALSAFAH ISLAM



DALAM dunia falsafah Islam Al-Ghazali merupakan perintis awal yang sangat terkenal. Beliau yang mendapat gelaran "Hujjatul Islam" adalah Ilmuwan ulung yang sangat berjasa terhadap perkembangan dunia keilmuan Islam. Nama lengkap beliau ialah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali at-Tusi. Lahir di Tus, Khurrasan pada tahun 450H.

Ayahnya merupakan seorang sufi yang sangat wara' dan kerjanya memintal dan menjual benang yang ditenun dari bulu biri-biri. Turut mendedahkan anak-anaknya dengan asas sufi. Al-Ghazali mempunyai seorang saudara lelaki bernama Ahmad. Pada mulanya beliau mendapat pendidikan awal di kampungnya sendiri dalam bidang Fiqh dan kemudian meneruskan kembara Ilmu ke Jurjan. Pernah berguru dengan beberapa orang ulamak terkenal pada zamannya, misalnya Imam al-Juwaini di Naisabur dan Nizam al-Muluk di Muaskar. Melalui Nizam al-Muluk, Al-Ghazali diterima mengajar di Madrasah Nizamiyah di Kota Baghdad disokong kemahiran bermuhadharah sehingga menjadikan dirinya seorang Ilmuwan yang amat terkenal dalam bidang Fiqh, Ilmu Kalam dan Falsafah pada zaman tersebut.

Lantaran mewarisi sifat Ulamak Islam beliau juga sering bermusafir dan mengembara dari sebuah negara ke negara yang lain bagi menambah ilmu dan menyebarkannya. Sangat dihormati oleh Pemerintah Bani Saljuk dan Abbasiah kerana keilmuannya yang mendalam dan mempelopori bidang ilmu falsafah. Menurutnya keilmuan dan keistimewaan para sufi tidak akan dapat dipelajari melalui buku-buku kecuali dengan pengalaman dan merasainya sendiri.

Falsafahnya telah meninggalkan kesan yang berpengaruh dalam diri para Intelek Islam seperti ar-Rumi, Ibn Rusyd, syah waliuLlah dan ramai lagi. Setelah beberapa lama mengembara dan mempertajamkan ilmu serta sikapnya sebagai seorang sufi, al-Ghazali kembali ke Naisabur atas desakan Fakhrul Muluk, anak kepada Nizam al-Muluk untuk kembali mengajar di Madrasah Nizamiyah. Namun tidak beberapa lama setelah itu, Fakhrul Muluk mati terbunuh dan Al-Ghazali kembali semula ke Tus dan membuka sebuah madrasah bagi menyebarkan ilmu dan mendidik hati. Al-Ghazali kembali ke rahmatullah pada tahun 505H dalam usia 55 tahun.

ASAS-ASAS FALSAFAH AL-GHAZALI

Menurut Al-Ghazali falsafah secara ringkasnya dikatogerikan kepada enam aspek penting iaitu: matematik, fizik, metafizik (KeTuhanan), politik, logik dan etika (akhlak). Malah menurutnya Islam tidak melarang mempelajari ilmu-ilmu seperti falsafah Greek asalkan ianya tidak bertentangan dengan Islam sebagaimana dibahaskan di dalam karyanya yang berjudul "Tahafut al-Falasifah" mengenai fizik dan metafizik yang mengatakan alam ini terurus dengan sendiri tanpa kawalan. Walaupun beliau bersetuju dengan sumbangan teori falsafah yang dipelopori oleh Aristotles dan Plato terhadap nilai keilmuan Islam, namun tidak semua diterima oleh beliau kerana terdapat sejuzuk dari bidang falsafah yang bertentangan dengan akidah Islam.

Dalam kitab "al-Munqidz Min ad-Dhalal" al-Ghazali menyatakan bahawa para Filosof yang menganut pelbagai mazhab dan yang membawa pemikiran yang berciri kekufuran dapat dibahagikan kepada tiga golongan:

a. Golongan ad-Dahriyyah (Aties)

Golongan ini mengingkari adanya Tuhan. Kata mereka, alam ini ada dengan sendirinya. Seperti haiwan yang ada melalui mani dan mani dari haiwan tanpa kesudahan lingkarannya, demikian pula halnya dengan alam ini. Golongan ini adalah zindiq.

b. Golongan at-Tobi'iyyah (Naturalis)

Golongan ini memusatkan perbahasan pada alam fizika, terutama haiwan dan tumbuh-tumbuhan. Keajaiban yang mereka temui menjadikan mereka mengakui adanya Pencipta yang Maha Bijaksana. Golongan ini berpendapat setiap jiwa akan fana dan tidak kembali lagi. Lantaran itu mereka mengingkari adanya hari akhirat, syurga dan neraka. Golongan ini juga termasuk zindiq.

c. Golongan al-Ilahiyyah (Theis)

Golongan ini muncul dari dua golongan yang telah dinyatakan. Seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles. Kesan daripada itu, Aristoteles telah menyanggah pemikiran para filosof sebelumnya, tetapi dia sendiri tidak mampu membebaskan diri dari sisa-sisa kekufuran. Namun ilmu-ilmu falsafah selain yang membincangkan tentang KeTuhanan boleh diterima selagimana tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sebagai contoh Al-Ghazali menunjukkan satu contoh dalam ilmu matematika yang tidak dapat diingkari kebenarannya.

Adapun dalam bidang keTuhanan Al-Ghazali berpendapat para filosof banyak bertentangan dengan agama Islam, sehingga wajib ditolak. Untuk maksud tersebut karyanya yang berjudul "Tahafut al-Falasifah" yang mengemukakan 20 masalah yang tidak sesuai dengan Islam (meliputi hal kufur dan bid'ah) harus diteliti oleh Umat Islam. Konklusi yang dibuat oleh Al-Ghazali di dalam perbahasan kitab tersebut meletakkan tiga aspek pertentangan antara filosof dan Islam iaitu:

1. Filosof menganggap qadimnya alam
2. Tuhan tidak mengetahu peristiwa-peristiwa kecil yang berlaku di bumi
3. Mengingkari kebangkitab semula jasad pada hari akhirat

Sebagai cadangan untuk menyelak pemikiran falsafah Al-Ghazali bolehlah membaca karyanya "Tahafut al-Falasifah" dan "Maqasid al-Falasifah."

PERSPEKTIF SARJANA ISLAM TERHADAP AL-GHAZALI

Para Ilmuwan Islam baik sezaman dengan beliau atau selepasnya amat tertarik dengan daya pemikiran dan falsafah yang diketengahkan beliau untuk tatapan umat Islam. Sebagai seorang pengkritik kepada filosof beliau juga tidak terlepas daripada diertikaikan sebagai seorang ahli falsafah. Contohnya Ibn Rusyd yang menulis sebuah buku berjudul "Tahafut at-Tahafut" sebagai serangan balas terhadap dakwaan Al-Ghazali yang menentang pemikiran falsafahnya. Walau bagaimanapun perkara ini dianggap sebagai suatu kebiasaan para ilmuan mendatangkan hujah dan dalil terhadap perselisihan pendapat di kalangan mereka. Perkara sebegini juga berlaku terhadap Plato apabila teori falsafahnya diperbetulkan oleh muridnya, Aristoteles.

Menurut Ibn Tufail dalam menghuraikan penentangan Al-Ghazali terhadap aspek metafizik di atas tadi bahawa ianya memang suatu kontradiksi daripada fikirannya dan ada lain pendapat yang mengatakan ianya kesan perkembangan pemikiran Al-Ghazali bermula dari peringkat awal pendidikannya sehinggalah beliau mengalami pelbagai pengalaman dan peningkatan terhadap ilmu pengetahunnya.

Selain Sarjana Islam, Orientalis barat dan penulis-penulis bawat juga sering menulis tentang Al-Ghazali. Antara mereka ialah J.Wensik, Obbermana, Cara De Vaux dan lain-lain lagi lantaran kekaguman terhadap teori falsafahnya. Pun begitu mereka yang sering mengikuti perkembangan Al-Ghazali sering memberikan pandangan dan penafsiran yang berbeza-beza antaranya B.B Mc donald yang menyifatkan Al-Ghazali sebagai seorang tokoh yang terkenal di dunia Islam sebagaimana Augustinus dalam dunia Kristian. Malah Pascal, filofoh terkenal Perancis sering merujuk kepada pendapat Al-Ghazali dalam falsafahnya.

KARYA AL-GHAZALI

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali adalah ulamak dan pemikir Islam yang sangat produktif dalam penulisan. Jumlah hasil tulisannya sehingga kini masih tidak dapat ditentukan dengan tepat secara defenitif oleh para penulis sejarahnya. Ini kerana ada di antara kitab-kitabnya yang telah diterbitkan dan masih ada yang tersimpan dalam perpustakaan makhtutah negara-negara Arab. walau bagaimanapun Abdurahman Badawi mengklasifikasikan karya Al-Ghazali kepada tiga katogeri. Pertama kitab yang dikenalpasti dengan tepat sebagai karya Al-Ghazali sejumlah 72 kitab. Kedua, kelompok yang diragui terdiri dari 22 kitab dan ketiga, Kitab yang dapat dipastikan bukan karyanya sejumlah 31 kitab.

Kitab-kitab yang ditulis oleh beliau meliputi pelbagai bidang ilmu seperti al-Quran, akidah, ilmu kalam, usul fiqh, fiqh, tasauf, mantiq, falsafah, kebatinan dan lain-lain. Antara karyanya yang sangat berpengaruh dan dominan ialah:

1. Tahafut al-Falasifah
2. Ihya' Ulumiddin
3. al-Munqidz Min ad-Dhalal
4. Miskat al-Anwar
5. Maqasid al-Falasifah
6. Majalis Al-Ghazali
7. al-Mustazhari

Hasil karya beliau sering menjadi rujukan terutama dalam bidang falsafah ialah "Tahafut al-Falasifah" yang banyak membongkar pemikiran dan pendirian beliau. Karyanya ini merupakan jawapan dan pendirian terhadap falsafah yang bertentangan dengan akidah Islam. Inilah bukti yang menjadikan beliau ahli falsafah yang mempunyai keistimewaan. Dalam pencarian hakikat dan kebenaran yang sering mendorong dirinya menjadi seorang pengkaji yang bukan hanya mendalami ilmu malah mengamalkan keilmuan dan merasai dzuq seorang muslim sejati. - Tamat.

Sunday, August 26, 2007

Haji Rasul Amrullah Tokoh Tajdid Nusantara
Haji Rasul Amrullah Tokoh Tajdid Nusantara




Pada bulan Januari 2006 genap dua tahun tulisan saya tentang ulama dunia Melayu disiarkan dalam ruangan agama Utusan Malaysia. Artikel pertama disiarkan pada Khamis 19 Februari 2004. Sehingga hari ini jumlah ulama yang telah diperkenalkan ialah seramai 95 orang. Hingga terbitan hari ini hanya tiga orang ulama Kaum Muda atau Tajdid diperkenalkan.


Dua tokoh tajdid (pembaharuan) yang diperkenalkan sebelum ini ialah Syeikh Tahir Jalaluddin dan Syed Syeikh al-Hadi. Tujuan saya memperkenalkan tokoh-tokoh Kaum Tua dan Kaum Muda bukan bererti memperlihatkan diri berpihak, tetapi lebih kepada memaparkan sejarah.


Ulama yang diperkenalkan kali ini nama asalnya ialah Muhammad Rasul. Namanya nama yang terkenal ialah Dr. Syeikh Abdul Karim bin Amrullah. Beliau lahir pada hari Ahad, 17 Safar 1296 H/10 Februari 1879 M di Kepala Kebun, Betung Panjang, Negeri Sungai Batang, Manjinjau, Dalam Luhak Agam, Minangkabau, Sumatera Barat.




PENDIDIKAN
Sejak berumur tujuh tahun, ayah dan ibunya telah memerintahkan beliau mendirikan sembahyang dan puasa pada bulan Ramadan. Selanjutnya pada usia 10 tahun, ayah saudaranya, Haji Abdus Samad membawanya ke Sibalantai, Tarusan, Painan belajar al-Quran daripada Tuanku Haji Hud dan Tuanku Pakih Samnun. Buya Hamka menyebut bahawa setahun kemudian beliau pulang ke Sungai Batang, lalu diajarkannya menulis Arab (maksudnya tulisan Melayu/Jawi, pen:) daripada Adam anak Tuanku Said.


Pada usia 13 tahun beliau mulai belajar ilmu nahu dan saraf daripada ayahnya, Syeikh Amrullah. Ayahnya menghantarnya belajar ke Sungai Rotan, Pariaman, menuntut ilmu daripada Tuanku Sutan Muhammad Yusuf. Kemudian Syeikh Amrullah sendiri membawa anaknya Muhammad Rasul itu ke Mekah untuk mendalami pengetahuannya dengan ulama-ulama Mekah pada zaman itu. Ketika belajar di sana, usia Muhammad Rasul sekitar lingkungan 16 ke 17 tahun iaitu pada tahun 1312 H/1894 Masihi.


Buya Hamka dalam buku Ayahku menyebut nama guru-guru Haji Rasul ialah Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syeikh Abdullah Jamidin, Syeikh Utsman Sarawak, Syeikh Umar Ba Junaid, Syeikh Saleh Ba Fadhal, Syeikh Hamid Jeddah dan Syeikh Sa'id Yaman.


Tulis Buya Hamka selanjutnya: "Dan pernah juga belajar kepada Syeikh Yusuf Nabhani, pengarang kitab Al-Anwarul Muhammadiyah. Syeikh ini jadi terkenal kerana dia benci kepada Syeikh Muhammad Abduh! (Karangan-karangannya itu besar pengaruhnya di kalangan ulama-ulama tua di Indonesia, sehingga payah menghapuskannya)." (Lihat Ayahku, hlm. 59.)


Daripada sumber Buya Hamka di atas, hanya dua orang ulama yang berasal dari dunia Melayu menajdi guru ayah beliau Haji Rasul Amrullah di Mekah iaitu Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau dan Syeikh Utsman Sarawak. Tetapi yang saya kumpulkan daripada pelbagai sumber, Haji Rasul Amrullah Minangkabau juga belajar daripada ulama-ulama Melayu yang terkenal di Mekah ketika itu, di antara mereka ialah Syeikh Muhammad Ismail al-Fathani, Syeikh Wan Ali al-Kalantani dan Syeikh Ahmad al-Fathani.


Tulisan Buya Hamka yang menyebut bahawa ayah beliau "pernah juga belajar daripada Syeikh Yusuf Nabhani", bagi saya, masih belum jelas kerana Syeikh Yusuf Nabhani itu adalah ulama di Beirut. Saya belum menemui riwayat bahawa Syeikh Yusuf Nabhani pernah mengajar di Mekah. Kemungkinan juga Haji Rasul Amrullah pernah mendatangi dan belajar daripada Syeikh Yusuf Nabhani di Beirut. Tidak terdapat keterangan lanjut baik daripada Buya Hamka mahupun dalam tulisan orang lainnya.


Memperhatikan tahun kelahiran Haji Rasul Amrullah (1296 H/1879 M), tahun beliau belajar di Mekah ialah antara tahun 1312 H/1894 M hingga musim haji tahun 1323 H/Januari/Februari 1906 M dan beliau pulang ke Minangkabau pada Muharam 1324 H/Februari/Mac 1906 M. Daripada tarikh itu maka dapatlah kita bandingkan dengan beberapa orang ulama yang berasal dari dunia Melayu yang agak berdekatan tahun kelahiran dan sempat belajar dengan guru-guru yang sama di Mekah. Mereka ialah Syeikh Muhammad Sa’id Linggi (lahir 1292 H/1875 M), Kadi Haji Abu Bakar Hasan Muar, Johor (lahir 1292 H/1875), Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani (lahir 1293 H/1876 M), Syeikh Abdul Hamid Mahmud Talu, Minangkabau (lahir 1298 H/1880 M) dan masih ramai lagi.


Mereka adalah golongan Kaum Tua, kecuali Haji Rasul Amrullah yang diriwayatkan ini saja dalam golongan Kaum Muda. Sebenarnya jika disimpulkan, kitab-kitab yang dipelajari Haji Rasul Amrullah daripada semua gurunya adalah kitab-kitab Kaum Tua juga, seperti kitab Fat-h al-Mu'in, Tafsir Jalalain dan lain-lain. Saya belum menjumpai riwayat bahawa beliau pernah belajar kepada tokoh Kaum Muda, kecuali beliau hanya belajar daripada Syeikh Tahir Jalaluddin. Lain halnya dengan Syeikh Tahir Jalaluddin, Syeikh Muhammad Nur al-Fathani, dan Syeikh Basiyuni Imran (Maharaja Imam Sambas) yang ketiga-tiganya adalah murid Syeikh Muhammad Abduh dan Saiyid Rasyid Ridha di Mesir.


Jadi pengetahuan Haji Rasul Amrullah adalah berdasarkan pembacaan kitab-kitab karangan Ibnu Taimiyah, Ibnu Qaiyim, Syeikh Muhammad Abdul Wahhab dan terakhir sekali ialah karangan Syeikh Muhammad Abduh dan karangan Saiyid Rasyid Ridha terutama Tafsir al-Manar. Riwayatnya menunjukkan beliau tidak belajar daripada ulama Kaum Muda, tetapi kepada ulama Kaum Tua, belajar kitab-kitab Kaum Tua, namun akhirnya hanya melalui pembacaan menjadi tokoh Kaum Muda yang dapat kita bandingkan dengan Mufti Haji Wan Musa Kelantan.


Mengenai sambutan kepulangan Haji Rasul ke negerinya, Buya Hamka menulis, "Belum lama di rumah, orang dalam negeri, termasuk Laras sendiri mengadakan peralatan melantik Syeikh Amrullah bergelar 'Tuanku Nan Tuo' dan Haji Rasul diberi gelar 'Tuanku Nan Mudo'. Meraikannya disembelih beberapa ekor kerbau dan dipanggil tuanku-tuanku dari keliling danau untuk turut menyaksikan." (Lihat Ayahku, hlm. 61.)


Kegembiraan Tuan Kisa-i (Syeikh Amrullah) atas kepulangan anak beliau Haji Rasul yang membawa ilmu tiada dapat kita bayangkan, tetapi kegembiraan itu rupa-rupanya bertukar menjadi sebaliknya kerana jalan pemikiran dalam pegangan Islam antara ayah dengan anak sangat jauh berbeza.


Dari segi ini Buya Hamka mencerminkan kejujuran beliau menulis tentang ayah dan datuknya itu. Kata beliau, "Kedatangan di kampung disambut dengan gembira oleh ayahnya dan orang kampung, baik kalangan lebai-lebai atau kalangan ninik-mamak. Tetapi kegembiraan itu akhirnya akan kecewa juga ... Syeikh Ahmad Khatib juga seorang sufi, tetapi beliau tidak menyetujui cara tarekat yang memakai kaifiat-kaifiat yang bidaah-bidaah itu. Padahal Syeikh Amrullah sendiri adalah Syeikh Thariqat Naqsyabandi." (lihat Ayahku, hlm. 61.)


Kita tidak dapat menggambarkan bagaimana pergolakan dalaman antara ayah dengan anak yang terjadi sebenarnya, kerana belum terdapat tulisan orang lain yang membicarakan perkara itu. Saya kagum terhadap Buya Hamka. Dia seorang yang sangat bijaksana, beliau cukup faham ada perkara yang perlu diketahui oleh umum untuk dijadikan iktibar dan ada pula yang tidak perlu disebarkan kepada umum.


Buya Hamka cukup beradab dan berbudi bahasa untuk menceritakan sesuatu yang menyentuh darah dan daging beliau sendiri. Tentang Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau menganggap "memakai kaifiat-kaifiat yang bidaah-bidaah" adalah bidaah yang disebut oleh Buya Hamka itu. Ia sebenarnya telah ditentang oleh beberapa orang ulama yang berasal dari Minangkabau sendiri. Di antara yang dipandang paling hebat ialah Syeikh Muhammad Sa'ad Mungka.


Bahkan sangat ramai murid Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tetap istiqamah mengamalkan tarekat di antaranya ialah Syeikh Khathib Ali bin Abdul Muthalib al-Khalidi an-Naqsyabandi, penyusun kitab Miftah ad-Din, termasuk Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, murid Syeikh Ahmad Khatib juga mengamalkan tarekat.


Buya Hamka membahagikan karangan ayahnya kepada beberapa jenis. Yang ditulis pada peringkat awal mulai tahun 1908 M hingga tahun 1923 M, jumlahnya ada 15 judul. Yang dikarang setelah beliau mengikut Kongres Islam di Mesir ditulis mulai tahun 1928 M hingga tahun 1943 M, ada 11 judul. Namun ada dua judul terakhir tidak terdapat tahun penulisan. Buya Hamka menulis, "Karangan-karangannya itulah yang menjadi 'soal besar' dan 'membuat ribut' dalam zamannya."


Pada waktu itulah keluar kefahamannya yang ganjil-ganjil dan 'moden' sehingga beliau dicap Kaum Muda dan menggoncangkan masyarakat Minang 30 tahun yang lalu.’’ (30 tahun yang lalu dihitung ketika Buya Hamka menulis buku tersebut, iaitu tahun 1950. Tetapi hingga sekarang bererti sudah lebih 80 tahun, pen:). Buya Hamka menulis selanjutnya, "Sehingga buku-buku itu dilarang dibaca dalam kerajaan Melayu: Johor, Pahang, Perak, Kelantan, Terengganu, Perlis, Selangor, dan Negeri Sembilan. Sebab menyebarkan bibit Kaum Muda!" (Lihat Ayahku, hlm. 222.) Saya belum mengetahui sampai di mana benarnya tulisan Buya Hamka itu kerana beliau masukkan Perlis juga melarang karangan-karangan ayah beliau, sedangkan negeri Perlis sendiri dikatakan orang adalah satu-satunya negeri Kaum Muda di Semenanjung Melayu.


Kemungkinan di Minangkabau telah hangat pertikaian antara Kaum Tua dan Kaum Muda tetapi di Perlis ketika itu para ulamanya masih berpegang dengan fahaman Kaum Tua.


Dalam simpanan saya terdapat beberapa bukti bahawa Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau marah kepada muridnya Haji Rasul Amrullah. Sewaktu terjadi polemik antara Haji Rasul Amrullah dengan Syeikh Hasan Maksum, Medan, tentang ‘Ushalli’, Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau menulis sepucuk surat berpihak kepada muridnya Syeikh Hasan Maksum (Kaum Tua) dan menolak fahaman Haji Rasul Amrullah.


Sewaktu Syeikh Saad Mungka dalam perkara yang sama (Ushalli) menyalahkan Haji Rasul Amrullah, ada orang melaporkan kepada Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau di Mekah. Ternyata Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tidak menyokong Haji Rasul Amrullah. Pada konteks ini Buya Hamka menulis, "Maka datanglah balasan dari Mekah! Syeikh Ahmad Khatib rupanya agak marah kepada ayahku, mengapa soal itu dibuka. Lalu beliau menguatkan lebih baik juga Ushalli dipakai. Demi menerima serangan daripada Syeikh Saad Mungka dan penyesalan daripada gurunya yang sangat dihormatinya, bertambah tersinggunglah perasaannya."


Serangan Syeikh Saad Mungka tambah mendorongnya buat mempersiap diri, dan penyesalan gurunya menambahkan ragunya, mengapa maka gurunya yang mendidiknya selama ini bebas berfikir telah menghambat kebebasan berfikir itu. Jawabnya kepada gurunya sangat hormat.’’ (Lihat Ayahku, hlm. 280.)




KEBEBASAN
Mengenai kebebasan berfikir perlulah dibimbing daripada wahyu Allah, hadis Nabi s.a.w. ijmak, dan kias serta etika dalam menyebarkannya. Tidak semestinya kita berpendapat bahawa pemikiran kita saja yang benar, kerana sangat ramai orang selain kita juga berfikir. Apabila terjadi pertikaian pendapat yang bertentangan antara dua golongan, saya berpendapat, terdapat tiga rumusan.

Pertama:
masih dalam kemungkinan yang satu adalah 'betul' dan yang satu lagi adalah 'salah'.

Kedua:
yang sudah pasti, tidak mungkin kedua-duanya adalah 'betul'.

Ketiga:
masih ada kemungkinan kedua-duanya adalah 'salah'.





Ditulis oleh Ustaz Wan Mohd Shaghir Abdullah.

Update Download

  • Tiada Link

    Harap maaf. Tiada update download yang terbaru. Ada sapa2 nak sumbangkan benda untuk didownload?

  • Tiada Link

    Harap maaf. Tiada update download yang terbaru. Ada sapa2 nak sumbangkan benda untuk didownload?

  • Tiada Link

    Harap maaf. Tiada update download yang terbaru. Ada sapa2 nak sumbangkan benda untuk didownload?

  • Tiada Link

    Harap maaf. Tiada update download yang terbaru. Ada sapa2 nak sumbangkan benda untuk didownload?